Wanita Peserta Aksi Rohingya Ini Menceritakan Kisah Harunya Saat Di-stop Polisi


FAKTAMEDIA.NET - KAMIPUN HADIR ATAS PERINTAH 'ATASAN' KAMI.


Jumat 8 September 2017...
Ini hari yang sangat saya nanti. Terbayang akan berkumpul dengan ribuan kaum muslimin, untuk menengadahkan tangan bersama, memohon pada Allah agar saudara-saudara seiman kami di Rohingya sana terbebas dari kedzoliman yang sedang mereka alami.

Pukul 09.00 kami (saya, suami dan dedek uwais) berangkat dari rumah, dengan harapan bisa melaksanakan sholat Jumat di Masjid AnNur, lokasi diadakannya doa bersama. Menurut perhitungan kami, waktu tempuh yang kurang lebih 1,5 jam, cukuplah untuk bisa sampai lokasi.

Pukul 10.00, kami terjebak macet di jembatan Krasak. Sangat lama dan puaaaannnjang macet ini. Kami tak tahu ada apakah di ujung sana. Mobil berjalan merayap. Sekitar satu jam kemudian, sampailah kami di pangkal macet. Ternyata banyak polisi berjajar di pinggir dan di tengah jalan. Ok, disini saya masih merasa optimis untuk mendapatkan ijin lewat. Melewati beberapa polisi, kami masih dipersilahkan lewat, tapi entah, tiba-tiba saja ada polisi datang dan bertanya ke suami
 "Mau kemana pak?" (nada suaranya tinggi).
"Mau ke Magelang pak" jawab suami.
 "jangan lewat sini! Putar!".

Sayapun ikut bersuara "kami mau ke tempat saudara pak". (bukan berbohong ya, disana kan memang mau bertemu saudara, saudara seiman, hehehe...) Polisi semakin tinggi nada bicaranya "putar!!". "Kenapa dilarang lewat sih pak?, kami harus lewat jalan mana ini??" emak-emak ini jadi emosi juga deh, makin tinggi dah tu nada bicara saya. "sudah, putar aja, putar dulu aja bu. Tidak usah bertanya!" bentak polisi. Ok. Akhirnya kami mengikuti perintah, putar arah.

Dengan bekal Google map, kami nekat jalan. Hingga akhirnya memutuskan lewat jalan kecil yang nampak sangat asri, jalannyapun bagus, dan yang terpenting, disini sepi tidak macet dan harapan kami tidak ada polisi berjaga. Jauh perjalanan yang kami tempuh hingga akhirnya harus berhenti juga di perempatan yang disitu truk polisi dipakai untuk menutup jalan. Arahan Google map harusnya lurus, tapi karena ditutup, pilihan kami ke kanan atau ke kiri. Polisi bertanya lagi "mau kemana pak?". "Magelang" jawab suami. "lewat kiri saja pak". Ok, kita mengikuti arahan untuk belok kiri.

Tidak lama kemudian kami melihat gabah yang dijemur di pinggir jalan. Banyak. Sebenarnya perasaan udah nggak enak, kok kampung banget, itu pertanyaan kami. Tapi ya sudahlah, mungkin di depan sana ada jalan pintas. Semakin lama jalan semakin sempit, hingga akhirnya sampai ke ujung aspal. Di depan jalan tanah kering yang berdebu. Masih optimis melewati dengan mobil tua yang suara knalpotnya mulai meraung-raung. Jalan sangat sempit, hanya seukuran lebar mobil saja.

Melewati jembatan tua, lalu tebing di sebelah kiri, jalan terus hingga akhirnya kami shock. Bagaimana tidak, di sebelah kiri tanggul sungai, kira-kira dalamnya 4-5m (posisi dibawah) dengan debit air yang sangat deras. Dan di sebelah kanan kebun warga yg posisinya di bawah kami sekitar 4-5m. Ya, mobil kami sekarang di atas tebing. Yang maju tidak bisa, mundur pun susah, karena Banyak pengendara motor disana. Awalnya suami berusaha putar, tapi tidak bisa. Disini lah titik kepasrahan kami atas semua kehendak Allah yang mungkin akan terjadi nanti. Lutut saya bergetar, melihat suami kerepotan mengendalikan mobil. Saya pun mencoba mengarahkan suami yang akhirnya memutuskan mundur. Meski tidak mudah, dengan kondisi jalan yang berkelok diatas tebing pula. Mohon pengertian para pengendara motor untuk berhenti dan memberi kami jalan. Saya berjalan kaki ke ujung jalan untuk menghentikan semua kendaraan, memberitahukan bahwa jalan sangat sempit dan mohon untuk diberi jalan.

Hampir semua yang lewat adalah peserta doa bersama. Mereka sangat membantu kami. Di ujung jalan, dua orang polisi mengendarai motor datang dan bertanya dengan nada tinggi "ada apa ini?". "kami terjebak pak" jawab saya. "kenapa anda mengarahkan kami kesini?" tanya saya pada mereka. Mereka berlalu pergi, tanpa berusaha membantu mengarahkan mobil kami.

Alhamdulillah kami selamat, meski dada ini sampai saat inipun msh belum tenang. Kami berjalan kembali setelah berpamitan, mohon maaf pada semua pengendara dan berterimakasih atas pengertian dan bantuan mrk. Kembali melewati jalan dimana polisi berkerumun.
Kembali ditanya, dan diarahkan belok kanan, polisi yang lain mengarahkan lurus. Suami menjawab "Katanya belok?". Emak-emak cungkring nih rasanya dah pingin linting lengan baju 😈 "gimana sih pak, kok nggak sama ngarahinnya?". "oh maaf, silahkan belok" jawab polisi. Hah... Sebel rasanya....

Kami pun jalan tak tentu arah, saat itu yg ada di pikiran kami adalah 'harus menemukan masjid'.
Pukul 11.35, alhamdulillah kami sampai di suatu masjid. Disana terparkir sekitar 4 bis. Semua penumpangnya memadati masjid untuk sholat jamaah. Mereka ibu-ibu tua yang bertujuan sama dengan kami dan sama, dihalangi. Kami mendengar tangisan khotib yang sedang bercerita tentang penderitaan muslim Rohingya dan keprihatinan atas

Penutupan akses untuk doa bersama.
Di masjid ini, dedek uwais memeluk saya erat tanpa mau melepaskannya. Sayapun tanpa terasa menitikkan air mata. Yaa Allah, sungguh Kau Maha Pelindung. Tadi maut sudah di depan mata kami. Kalau bukan karena perlindungan Mu, entahlah.

Pukul 12.00 kami melanjutkan perjalanan. Besar harapan kami sampai di lokasi dan tanpa hambatan apapun. Ternyata, setelah panjang perjalanan, harapan itupun pupus. Polisi memblokade semua jalan. Padahal kurang lebih hanya sekitar 2km lagi sampai di lokasi. Disini kami bertemu dengan rombongan kaum muslimin dari ponpes anak kami. Kami melihat Kamad sedang melobi polisi untuk diizinkan lewat. Saya ijin suami untuk turun dari mobil. Untuk mengetahui yg terjadi. Sayapun turun dan mengambil beberapa foto. Saya dengar Ustadz mengatakan "kami hanya mau lewat pak, kami tidak akan rusuh, hanya untuk mengikuti doa bersama". Yang saya dengar polisi menjawab "ini perintah atasan, tidak boleh dilanggar!". Sayapun sempat bertanya pada polisi yg ada di sebelah saya "Pak, kenapa semua jalan ditutup?"
"Perintah atasan"
" Kami kan hanya mau doa bersama kenapa dilarang? "
"Ini perintah atasan"
"Apa yang salah dengan kami? Kami tidak rusuh, tak ada senjata yang kami bawa "
" Ini perintah atasan" berkali dia memberi jawaban yang sama.
 
Sayapun diam. Saya paham bahwa ia hanya melaksanakan tugas. Tapi mbok ya kreatif gitu lho jawabannya...

Negosiasi Ustadz dengan polisi belum juga berhasil, hingga 1 polisi itu teepojok dn mengumpulkan teman-temannya untuk mendekat dan merapat.
Suami turun juga dari mobil dan menghampiri saya. Bertanya pada polisi yang membawa tameng "Mas, kenapa tidak boleh lewat?"
Polisi itu menjawab sambil tersenyum. "perintah atasan"
"Saya dan anda muslim, yang akan kita doakan pun orang-orang muslim, dilarang? " kata suami
" Perintah atasan"jawaban yang sama...

Suami mengajak saya untuk pergi dari tempat itu, saya berjalan di belakang suami, dan berhenti ketika ada polisi yang berbicara "doa di rumah kan bisa?". Saya pun menjawab "lalu jika doa bersama dilarang? Anda telah menghalangi kami untuk beribadah"
Polisi itupun melotot dengan siaga bersama tongkat dan tamengnya. Suami pun menarik saya untuk pergi.
(nampak ye, bininya lbh galak ternyata... 😊)
Kami pun kembali ke mobil, tapi terhenti ketika kami melihat Ustadz ditarik paksa oleh polisi dibawa ke suatu tempat. Disini kami semua tegang dan siaga. Suami meminta sy masuk mobil, sedangkan suami kembali mendekat ke kerumunan. Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa. Hingga akhirnya kami sepakat membubarkan diri.
Setelah ngobrol dg Ustadz beberapa saat, blio pun menyemangati "Tidak ada yang sia-sia dengan apa yang telah kita upayakan, insyaallah"

Betul ustadz.
Mereka atas perintah atasan bertugas menghalangi ibadah, dan kita atas perintah 'atasan' pula berjalan kesini dengan segala hambatan dan rintangan meski tetap tidak sampai ke lokasi.
Atasan mereka manusia, dan 'atasan' kami adalah Allah SWT.

Jangan kalian sangka kaum muslimin akan gentar atas sikap represif kalian, justru ini akan semakin mengeratkan ukhuwah antar kaum muslimin.
Kami punya hujjah saat menghadap Allah nanti, lalu apa hujjah anda sekalian nanti???
Dan tahukah kalian???
Tadi yang anda halau adalah para santri, generasi muda, akan tertancap di benak mereka atas semua sikap anda. Kekasaran sikap dan tutur anda. Jangan salahkan jika daya juang mereka nantinya lebih besar dari kami para orang tuanya. Itu karena anda sendiri yg membentuk demikian.
Padahal aksi ini untuk solidaritas Rohingya, bukan untuk mengungkap kesalahan penguasa, tapi kalian telah menunjukkan sikap anti islam.
Semoga Allah semakin menunjukkan pada kaum muslimin atas kedzoliman-kedzholiman yang terjadi.
Sungguh, kami semakin meyakini, bahwa penerapan islam kaffah adalah satu-satunya solusi.
Allahuakbar...
Allahuakbar...
Allahuakbar...

Catatan :untuk diketahui, dedek uwais shock atas kejadian saat diatas tebing hingga menjelang maghrib. Yg biasanya ceria, bawel, ini hanya diam saja. Mau bicara ketika saya peluk erat dan saya tanya kenapa. Barulah dia bercerita atas ketakutannya. Bahkan dia sempat bicara "ada apa sih bu polisi kok banyak, bawa senjata-senjata lagi."

sumber :https://www.facebook.com/abiya.hanin/posts/1447171768705249

Subscribe to receive free email updates: