Katanya Masih Rencana, Eh Senjata Import Polisi Mendadak Datang di Bandara, Polri Didesak Beri Penjelasan


FAKTAMEDIA.NET - Anggota Komisi III DPR Sufmi Dasco Ahmad mengatakan, Sejauh ini, Polri masih dalam tahap berencana membeli 5.000 senjata api dari PT Pindad. Selain itu, ada juga rencana impor 10.000 senjata. "Rencana Polri ini hal yang wajar," katanya.

Meski diklaim masih rencana untuk melakukan impor, namun siang ini beredar kabar di media sosial dan juga dimuat di harian tribunnews.com perihal kedatangan senjata impor milik Brimob (polisi).

Seperti dilansir tribunnews.com, Senjata api impor berikut amunisinya tiba di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang pada Jumat (30/9/2017) malam.

Dari data yang dihimpun, senjata serta amunisi ini diimpor oleh PT Mustika Duta Mas dan akan didistribusikan ke Korps Brimob Polri.

Pengiriman barang tersebut berlangsung sekitar pukul 23.30 WIB. Bertempat di Gudang UNEX Area Kargo Bandara Soetta.

Senjata dan amunisi ini didistribusikan dengan menggunakan Pesawat Charter model Antonov AN-12 TB dengan Maskapai Ukraine Air Alliance UKL-4024.

Maskapai tersebut memuat senjata dan amunisi yakni Arsenal JSCO 100 Rozova Dolina STR, 6100 Kazanlak Bulgaria. Dengan alamat penerima yaitu Bendahara Pengeluaran Korps Brimob Polri Kesatriaan Amji Antak Kelapa Dua Cimanggis, Indonesia.

Pesawat yang membawa barang ini landing di Bandara Soekarno Hatta sekira pukul 23.30 WIB. Unloading barang pada pukul 23.45 WIB.

Proses unloading selesai pukul 01.25 WIB, barang digeser ke Kargo Unex. Ada pun data barang tersebut di antaranya;

1. Arsenal Stand Alone Grenade Launcher (SAGL) Kal 40 x 46 mm sebanyak 280 pucuk. Dikemas dalam 28 box (10 pucuk/box) dengan berat total 2.212 kg.

2. Amunition Castior 40 mm, 40 x 46 mm round RLV-HEFJ with high explosive fragmentation Jump Grenade. Dikemas dalam 70 box (84 butir/box) dan 1 box (52 butir), total 5.932 butir (71 box) dengan berat 2.829 kg.

Kepala Bea Cukai Bandara Soetta, Erwin Situmorang enggan memberikan keterangan secara detail terkait hal ini. Ia tidak mengiyakan mau pun membenarkan perihal pengiriman senjata dan amunisi impor tersebut.

"Saya belum bisa komentar, nanti saja dulu masih di luar," ujar Erwin saat dihubungi Warta Kota pada Sabtu (30/9/2017).

POLRI DIDESAK MEMBERI PENJELASAN

Polri perlu menjelaskan dengan transparan mengenai beredarnya kabar tentang adanya 280 pucuk senjata dan sekitar 6.000 butir peluru milik Brimob yang tertahan di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta), Cengkareng, Banten.

Dari informasi yang diperoleh Indonesia Police Watch (IPW), senjata dan amunisi itu dipasok PT MDM dari luar negeri yang diduga dari Rusia. Polri perlu menjelaskan, apakah senjata dan amunisi ini bagian dari rencana Polri untuk membeli 20.000 pucuk senjata api atau bukan.

"Semula rencana pembelian senjata api tersebut sempat dipersoalkan Panglima TNI, dengan menyebutkan senjata yang akan dibeli itu jenis SS. Namun, Polri kemudian menjelaskan, senjata yang akan dibeli itu bukan jenis SS, melainkan jenis MAG 4. Sebanyak 5.000 pucuk dibeli dari Pindad dan 15. 000 pucuk lainnya dibeli dari luar neger," ujar Ketua Presidium IPW Neta S Pane kepada SP, Sabtu (30/9) siang.

Menurut Neta, otoritas Polri belum menjelaskan siapa yang memasok senjata itu dan dari negara mana senjata itu dibeli. Hanya disebutkan senjata itu, lanjut Neta, untuk Polantas dan Shabara. Namun, dari informasi yang diperoleh IPW, senjata yang tertahan di Bandara Soekarno-Hatta itu jenis SAGL untuk Korps Brimob.

Dikatakan, untuk menghindari kesimpangsiuran, maka Polri perlu menjelaskan, apakah senjata yang tertahan di bandara itu berbeda dengan senjata yang hendak dibeli dari luar negeri yakni sebanyak 15.000 pucuk atau tidak. Penjelasan ini diperlukan agar tidak muncul spekulasi yang merugikan Polri.

Senjata MAG 4 dibeli Polri dengan APBN 2017 dan DPR sudah menyetujuinya untuk 20.000 puncuk. Polri memang membutuhkan senjata api karena sebagian besar senjata api yang dipegang personelnya tergolong senjata tua dan sebagian hasil kanibal. Namun, diharapkan senjata yang digunakan Polri adalah untuk melumpuhkan para pelaku kejahatan dan tidak memiliki spek yang sama dengan senjata TNI agar tidak muncul komplain atau protes dari kalangan militer.





Sumber : republik

Subscribe to receive free email updates: