Ini Jawaban Ketika Aung San Suu Kyi Marah Karena Diwawancarai Seorang Muslim


FAKTAMEDIA.NET - Nobel perdamaian di berikan kepada Aung San Suu Kyi karena ia di anggap dunia International sebagai wajah “moralitas Myanmar”

Penilaian tersebut karena Suu Kyi memiliki ayah, Jenderal Aung San, yang disebut-sebut sebagai pendiri negara Burma, pasca kemerdekaan dari Inggris pada 1948.

Suu Kyi pada 1991, memperoleh penghargaan Nobel Perdamaian Dunia atas revolusi damai di Myanmar kurun waktu 1980-an. State Counsellor itu dikenal karena dedikasinya untuk memperjuangkan hak asasi manusia (HAM) dan demokrasi di Myanmar.

Rekam jejak Suu Kyi itulah yang kemudian membuat dunia internasional bertanya-tanya, atas bungkamnya putri sang pendiri Burma terhadap isu krisis kemanusiaan  yang dialami Rohingya.

Namun, menurut penelusuran CNN, sikap diam dan bungkam Suu Kyi atas diskriminasi terhadap Muslim Rohingya, telah ia tunjukkan sejak lama melalui sejumlah wawancara dengan media.

Dalam sebuah wawancara televisi dengan BBC News pada 2013 lampau, Suu Kyi tak mengakui dan justru memperdebatkan karakterisasi kekerasan yang diterima oleh etnis Rohingya.

Saat itu, pewawancara, Mishal Husain, menyampaikan kritik kepada Suu Kyi yang dianggap tidak membela kelompok minoritas di Rakhine.

Kala itu, etnis Rohingya mendapat persekusi dari kelompok nasionalis-ekstremis Buddha. Kelompok ekstremis itu turut menyebarkan sentimen anti-Muslim di seluruh Burma, seperti dilansir islampos.

“Inilah yang dunia perlu pahami,” kata Suu Kyi saat diwawancarai oleh BBC.
“Bahwa ketakutan itu (sentimen agama dan persekusi) tidak hanya dirasakan oleh umat Islam, tapi juga pemeluk Buddha,” lanjutnya.

Ketika Mishal Husain berargumen bahwa kekerasan mengerikan tersebut menyebabkan hilangnya nyawa ribuan orang dan puluhan ribu lainnya menyelamatkan diri, Suu Kyi sama sekali tidak menyebut kata Muslim untuk membahas eksodus warga sipil.

“Saya pikir ada banyak umat Buddha yang juga meninggalkan negara ini karena berbagai alasan dan ada banyak umat Buddha yang berada di kamp-kamp pengungsian. Ini adalah hasil dari penderitaan kami. Saya pikir jika Anda hidup di bawah kediktatoran selama bertahun-tahun, orang-orang jadi tidak saling percaya dengan satu sama lain,” ujar Suu Kyi.

Namun, menurut sebuah buku yang diterbitkan kemudian, Suu Kyi ternyata mengomentari proses wawancara tersebut dengan berkata, “Tidak ada yang mengatakan kepada saya bahwa saya akan diwawancarai oleh seorang Muslim (Mishal Husain).

Sumber : queeneka

Subscribe to receive free email updates: