Tulisan Pak Guru Ini Membongkar Tingkah Laku FPI "Selusin FPI Pun Bukan Masalah"


FAKTAMEDIA.NET - Ini terjadi sekitar 12 tahun yang lalu. Suatu petang saya dengan teman-teman (sekitar 7 orang) sedang berada di Koperasi Mahasiswa IAIN Mataram. Kami adalah pengurus koperasi mahasiswa tersebut. Koperasi biasanya kami buka sampai malam.

Terutama unit usaha rental komputer (ada juga unit usaha minimarket). Karena banyak mahasiswa yang menyusun sripsi atau sekedar membuat makalah sampai malam.

Petang itu sekelompok mahasiswa (sekitar 5 orang) datang merental komputer. Mahasiswa luar, bukan mahasiswa IAIN, nampaknya dari Unram. Padahal malam itu kami sudah berencana ke arena Mataram Expo.

Kami bisik-bisik di halaman kampus. Mencari cara agar bisa segera menutup koperasi. Meminta tamu pergi kami sungkan, karena kami sudah menempel stiker kalau rental kompurter buka sampai malam. Membatalkan rencana untuk pergi juga tidak mungkin.

Entah siapa diantara kami yang tiba-tiba mulai berfikiran seperti ini. Lihat mereka. Mereka “baok “ (berjenggot). Mengapa kita tidak titip saja konci pintu pada mereka. Nanti setelah selesai, mereka konci pintu dan taruh koncinya pada tempat yang kita sepakati.

Kami saling pandang. Benar mereka berjenggot. Kami menyepakati ide itu dengan aklamasi, tanpa satupun yang keberatan.

Kami memang sudah hapal karakter mahasiswa-mahasiswa seperti ini. Mereka biasanya jujur, bisa dipegang kata-katanya. Rendah hati, sopan, konsisten.

Mereka juga biasanya sangat bersahaja. Tidak sungkan memakai sepeda jengki ke mana-mana. Termasuk ke kampus. Tidak yang laki-laki atau wanita, sama saja. Beda dengan kami, amit-amit. Gengsi bro.

Kalau di kampus biasanya mahasiswa-mahasiswa seperti ini aktif di KAMMI atau LDK. Kalau di Parpol biasanya mereka aktif di PKS atau sekedar simpatisan.

Jadilah malam itu kami mempercayakan koperasi dengan isi-isinya sekalian ke mahasiswa-mahasiswa berjenggot tersebut. Yang tidak kami kenal sama sekali.

Dan benar saja. Saat kembali semua sesuai rencana. Aman terkendali. Tidak ada yang kurang. Termasuk sewa rental di depan komputer telah disiapkan.

Bukan saja saat kuliah, bahkan sampai saat ini saya pribadi sangat percaya dan hormat kepada orang-orang “baok.”

Orang-orang “baok” boleh bernaung di organisasi apapun. Ormas apapun. Salafi, Jamaah Tabligh, HTI, FPI, Wahabi, atau apapun itu. Mereka memang berbeda-beda, tidak bisa disamakan.

Tapi orang-orang seperti ini umumnya memiliki sifat-sifat yang saya sebutkan di atas. Ditambah mereka sangat tegas dengan prinsipnya. Mengatakan salah jika menurut mereka salah. Dan tidak sungkan-sungkan untuk berdakwah.

Mengenai semangat dakwah mereka, saya punya cerita lucu. Beberapa minggu yang lalu. Sekelompok remaja di kampung saya berencana menenggak minuman keras di tengah lapangan. Saya kurang jelas waktunya. Sekitar menjelang Magrib atau Isya. Tiba-tiba mereka didatangi Jamaah Tabligh. Menasehati agar tidak mengkonsumsi Miras, mengajak mereka sholat berjamaah.


Dan tentu saja Miras yang sudah siap ditenggak diambil. Hancur lebur perasaan pemuda-pemuda tersebut. Ada yang sampai menangis saking nyesek, jengkel atau apa. Tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Kejadian ini menjadi lelucon masyarakat kampung malam itu, ha...ha...

Sampai saat ini saya sendiri belum bisa menjadi bagian kelompok-kelompok seperti ini. Entah karena belum mendapat hidayah, atau apa. Tapi yang jelas saya merasa kurang cocok. Saya orang yang terlalu fleksibel untuk bisa menjadi bagian dari mereka. Tapi saya sangat hormat dan berempati pada mereka.

Oleh sebab itu saya agak emosi ketika melihat sebuah artikel “seword” yang mengkait-kaitkan FPI dengan peristiwa pembakaran manusia hidup-hidup di Bekasi beberapa hari yang lalu. Ditambah ilustrasi artikel berupa foto FPI ketika membakar boneka Ahok.

Tidak. FPI tidak begitu. Gumam saya dalam hati. Jangankan sampai membakar orang hidup-hidup, membunuh orang saja kita tidak pernah dengar ceritanya.

Makanya saya sangat heran ketika ada kelompok orang atau media menggambarkan FPI begitu bahaya dan brutal. Bahwa mereka sering melakukan aksi, itu betul.

Tapi aksi memerangi maksiat. Kalaupun disalah-salahkan secara hukum memang bisa. Taruhlah seperti Robin Hood dalam legenda. Tapi mengapa FPI digambarkan sebagai organisasi yang begitu berbahaya? FPI toh paling banter hanya membawa pentungan. Apalagi jika mengingat aksi-aksi solidaritas dan kemanusiaan FPI yang luar biasa dan konsisten.

Kalau kita mau jujur. Yang nyata-nyata brutal dan justru berbahaya adalah ormas-ormas yang berbasis daerah. Entah mereka sebagai pereman, mata elang, centeng, penguasa tempat parkir, body guard, bahkan begal.

Sudah tidak terhitung korban nyawa yang mereka timbukan. Belum lagi yang diculik. Ini sesungguhnya Ormas yang berbahaya dan perlu dipikirkan sungguh-sungguh.

Menurut saya. Daripada gaduh membubarkan HTI dengan impiannya yang mustahil terwujud, memikirkan FPI dengan aksinya yang lebih banyak manfaatnya dari mudharat. Akan lebih mantap pemerintah menerbitkan Perppu pemberantasan preman. Membentuk Petrus untuk memberantas mereka.

Dan seandainya saya menjadi seorang penjahat. Pemimpin begal. Pemilik rumah judi. Juragan Miras. Germo yang menjual anak-anak gadis anda. Menjual istri-istri anda. Saya memang akan takut digruduk selusin FPI. Tapi paling tidak saya akan mengalami kesialan sampai tingkat tiga.

Tingkat pertama mungkin tempat usaha saya akan di demo FPI kemudian ditutup. Tapi aset saya tidak rusak. Sial tingkat dua, saat di demo tempat usaha saya diratakan dengan tanah. Atau lebih sial lagi (sial tingkat tiga), selain tempat usaha rata dengan tanah, tubuh saya juga bonyok-bonyok kena bogem dan pentungan.

Beda jika yang saya hadapi adalah sesama penjahat. Yang mengirim anggota Ormas berbasis daerah. Kesialannya bisa maksimal. Satu saja anggota yang mereka kirim. Kelar hidup lo...!!!

Jadi, di mana letak bahaya dan brutalnya FPI? Atau anda seorang penjahat?

Lukman bin Shaleh, seorang guru di NTB

Subscribe to receive free email updates: