Rayakan HUT RI, Anak-anak Palestina Kibarkan Merah Putih Diiringi Lagu Indonesia Raya


FAKTAMEDIA.NET - Di saat negeri mereka sendiri sedang dijajah dan ditindas Israel, anak-anak Palestina ini kibas-kibaskan merah putih untuk HUT Ke-72 Kemerdekaan Indonesia!

Ya, betapa tidak haru ?

Ketika negerinya sedang dizalimi oleh pemerintah zionis Israel, anak-anak Palestina tetap bersemangat mengibas-kibaskan bendera merah putih, sebagai isyarat ikut bersyukur dengan HUT Ke-72 Kemerdekaan RI yang sedang dirayakan hari ini, Kamis (17/7/20176).

Foto ini viral dan menyebar cepat di media sosial.

Membuat haru masyarakat Indonesia di seantero Nusantara.

Karena betapa anak-anak dan rakyat Palestina sendiri masih terjajah, tanahnya masih ditindas Israel.

Wilayahnya semakin sempit karena terus digerogoti oleh Israel.

Tampak di foto, ibu-ibu dari anak-anak yang mengibarkan bendera tersebut berbeda-beda ekspresinya.

Meski anak-anaknya ceria mengibarkan bendera merah putih, ibu-ibu mereka nyaris tiada yang menampakkan senyum.

Netizen di dunia maya mengartikan ekspresi mereka sebagai ungkapan bermimpi "Kapan negeri kita menikmati kemerdekaan seperti saudara kita, Indonesia?"

Akun Instagram @palembang terkini menyebarkan foto tersebut dengan ungkapan haru.

"Terharu liat foto ucapan selamat dari anak-anak Palestina untuk Indonesia.

Sejak awal kemerdekaan kita sampai sekarang rakyat Palestina tetap konsisten mencintai saudaranya di Indonesia meskipun mereka masih dijajah sampai detik ini. Merdeka Indonesia

Merdeka-Lah Palestina

Aamiin.

Mari kita doakan untuk anak-anak generasi muslim Palestina yang siang malam diselimuti bombardir serangan brutal kaum Israel.. . Alfatihah... #palembangterkini

Video:

Akun @bunnayatistore ikut ungkapkan rasa harunya melihat rekaman video anak-anak Israel kibarkan bendera merah putih.

"Merdeka.. ! Siapa tak ikut terenyuh hatinya mendengar kumandang nyanyian Indonesia Raya, kini menyapa Gaza, Palestina.. ."

Rupanya awal mula foto tersebut menyebar dari akun @actforhumanity, akun resmi Lembaga Kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap Informasi.




Akun @actforhumanity menulis:

Dari Gaza : Eid Istiqlal Indonesia ! :) .

Tak kurang umur Indonesia yang semakin renta ini di usianya yang ke 72 tahun, ucapan selamat telah datang dari anak-anak Gaza :)

Hari ini, tahun 2017, terlampaui 72 tahun sudah sejak ucapan “Selamat Kemerdekaan” disampaikan oleh Mufti Besar Palestina, Syekh Muhammad Amin al-Husain.

Sebuah pengakuan kemerdekaan dari Palestina untuk Indonesia yang punya fungsi amat krusial kala itu.




Ada juga mengaku menangis melihat foto-foto simpati Palestina pada HUT Kemerdekaan RI ini.

"Terima kasih.. Keselamatan atas kamu dan Rahmat Allah serta berkah-nya terlimpah kepada kalian.

Siapa yang bisa menahan keinginan untuk tidak bergabung dalam barisan pembela kebenaran yang telah dijamin eksistensinya oleh Rasulullah.

Tidaklah berlebihan, jika dikatakan fenomena Hamas hari ini adalah bukti riil keberadaan kelompok jihad Abadi di muka bumi.," tulis akun @barlyfahmi.




Tak sedikit yang menyerukan doa, agar mereka yang di Palestina segera mereguk kemerdekaan, kebebasan dan hidup yang bebas penindasan di negeri sendiri.




Gadis Mungil Suriah Ucapkan Selamat Untuk Indonesia dengan Ekpresi Prihatin

Akun @actforhumanity juga melansir ucapan selamat HUT Kemerdekaan RI dari anak-anak Suriah yang kondisinya tak kalah menyedihkan dibanding Palestina.

Akun ini mengisahkan ..




Maria adalah satu dari sekian banyak anak pengungsi Suriah di Reyhanli yang berkesempatan merajut cita-citanya.

Gadis cilik berusia tujuh tahun ini begitu bersyukur ketika bisa bersekolah di Zenubya Geçici Eğitim Merkezi. Sekolah ini merupakan kerja sama antara ACT dengan yayasan lokal IDKA (Insani Dayanisma Ve Kalkinma Dernegi).

Dalam keluarganya, Maria merupakan anak bungsu dari 3 bersaudara, dengan 1 kakak laki-laki berumur 12 tahun dan 1 kakak perempuan berumur 15 tahun. Maria kecil ini memiliki semangat yang luar biasa dalam belajar.

Meski lahir sebagai anak bungsu, dia terkesan mandiri dan rajin ke sekolah. Bahkan, pada masa libur musim panas sekalipun, ia mengikuti program kursus Bahasa Turki dan Membaca Al Qur'an.

Maria hanya tinggal bersama ibu dan dua saudaranya. Ayahnya hilang ketika konflik Suriah berlangsung.

Mereka pun mereka terpaksa mengungsi ke Turki dikarenakan kondisi Suriah yang tidak kondusif lagi. Untuk menyambung hidup, ibunya bekerja di salon kecantikan wanita dengan gaji hanya 500 Lira (sekitar 1,8 juta rupiah).

Angka tersebut jauh dari Upah Minimum Republik Turki yang mencapai 1.400 Lira. “Gaji saya hanya cukup untuk membayar sewa rumah. Terkadang saya harus mengandalkan kiriman dari saudara-saudara saya untuk bertahan hidup,” ungkap ibunda Maria. Kini Ibu Maria berkesempatan bekerja sebagai relawan pengajar di Sekolah Zenubya.

Berbekal ijazah akademi ilmu syariah, ia menjadi guru pengajar Al Qur'an dan Ilmu Syar'i di sekolah yang sama di mana tempat Maria belajar.

Jauh dari tanah Suriah yang ia cintai, Maria tetap semangat meraih cita. Senyuman dan semangat Maria tentunya merupakan perwakilan dari senyum dan semangat seluruh anak Suriah yang dapat kembali mengenyam pendidikan. Kebahagiaan dan kebersamaan yang mewarnai semangat belajar mereka akan mampu menjadi trauma healing setelah meninggalkan medan konflik.

Sumber : tribunnews

Subscribe to receive free email updates: