MUI Dan Berbagai Pihak Kecam Film “Kau Adalah Aku”, GP Ansor Bilang Film nya Bagus dan Edukatif


FAKTAMEDIA.NET - Film pendek ‘Kau adalah Aku yang Lain (KAAL)’ dianggap sebagian kalangan melecehkan Islam. Namun ada pula yang menganggap Film yang memenangkan Police Movie Festival IV 2017 ini sarat dengan nilai-nilai toleransi.

Wakil Ketua Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Abdul Haris Ma’mum menilai video berdurasi 7 menit 41 detik itu mengandung pesan-pesan penting kemanusiaan. Terutama soal toleransi antarumat beragama.

Menurut Abdul Haris, kontroversi terhadap tafsir sebuah karya dalam hal ini film pendek KAAL sah-sah saja. Meski begitu, jika ditonton dengan seksama dan utuh, sebenarnya film tersebut sangat bagus, baik dari sisi sinematrografi maupun isi cerita dan pesan yang ingin disampaikan.

Ia mengatakan, yang dianggap beberapa kalangan sebagai melecehkan Islam adalah adegan di mana ada seorang kakek yang ngotot tak mau membukakan jalan untuk ambulans yang membawa pasien beragama nasrani yang sakit keras.

Alasan si kakek, karena jalan itu ditutup untuk pengajian. Namun pada akhirnya si kakek yang berpikiran fanatik sempit itu memberi jalan juga ambulans lewat setelah diberi pemahaman menyejukkan oleh tokoh pemuda, polisi, dan kiai.

“Saya apresiasi benar film ini. Film  indah  yang menunjukkan kebesaran Islam sebenarnya dan  memayungi keberadaan agama serta keyakinan lain. Allah SWT menciptakan manusia berbeda-beda, begitu juga dengan agama dan keyakinannya. Film ini dengan jernih menggambarkan Islam yang memberi rahmat bagi semesta, Islam yang rahmatan lilalamin,” kata Abdul Haris.

Ia tak menampik bahwa penganut agama yang terlalu fanatik dan berpikiran sempit di semua agama juga ada, baik itu Islam, Kristen, Buddha, maupun Hindu.

“Syiar Islam yang sejuk berhasil ditampilkan dalam film pendek KAAL ini. Saya sangat menyayangkan bila beberapa kalangan mencerca film ini dengan anggapan melecehkan Islam. 

Apalagi menuding KAAL sebagai bagian dari upaya pihak kepolisian memberi stigmatisasi kepada umat Islam sebagai intoleran,” tegas Abdul Haris.

Subscribe to receive free email updates: