Eks Staf Panglima: Kemarin Musuh Bersama Kita Ahok, Sekarang Jokowi


FAKTAMEDIA.NET - Brigjen (Purn) Adityawarman Thaha ikut merayakan kebebasan dua terpidana makar Rijal dan Jamran.

Adityawarman pun bercerita akibat tuduhan makar kepadanya, ia hanya ditangkap satu  hari saja. Penangkapannya dirumah kemudian buku yang disita dari rumahnya adalah kongres PKI di Malang, kongres Mujahidin dan buku bela negara.

"Penangkapan tuduhan makar adalah penghinaan. Selama saya menjalankan tugas negara sebagai TNI dan tidak terpikir soal makar atau melakukan prmberontakan. Saya hanya ingin kembali kembali kepada UUD 45 yang asli," katanya di kediaman Rijal, Warakas, Tanjung Priok, Sabtu (18/6).


Kondisi negara ini menurutnya sudah sangat kritis dan arah negara ini dibawah kendali para pemodal asing dan aseng yang telah merongrong kedaulatan bangsa dan negara. Menurutnya TNI tidak akan tinggal diam jika rakyat terus menerus dalam keadaan tertindas. Satu tahun ini kata dia adalah waktu masyarakat Indonesia membuat panggung rakyat untuk mengungkapkan segala kebobrokan yang diperbuat oleh elit politik yang berkuasa saat ini.

"Jangan melihat kelemahan dan kekurangan kita. Tapi siapa sangka Ahok yang memiliki kekuasan dan uang tidak terbatas bisa tumbang. Kemarin musuh kita ahok, kini musuh bersama kita adalah Jokowi. Konsep perang kita adalah gerilya. Allah tidak akan meninggalkan kita. Allah akan membantu perjuangan kita," tegas Adityawarman.

Adityawarman diamankan di rumahnya oleh petugas dari Kepolisian Daerah Metro Jaya. Adityawarman sebelumnya dikenal sebagai purnawirawan yang meniti kariernya di kesatuan Zeni Tempur Angkatan Darat. Ia dilahirkan di Suliki Gunung Mas, kabupaten Lima Puluh Kota, provinsi Sumatera Barat pada 4 Maret 1945. Adityawarman juga sempat menjabat sebagai Staf Ahli Panglima TNI.

Ia dikenal sebagai seorang ahli bahan peledak kelas dunia. Predikat ini diperolehnya saat menjalani pendidikan militer di Fort Bragg, Amerika Serikat. Adityawarman memperolehnya bersamaan dengan purnawirawan lainya, Sjafrie Sjamsoeddin, yang menyabet gelar serupa dalam bidang spionase dan anti-teror.

Selepas pensiun dari TNI, Adityawarman banyak berkecimpung di dunia politik dan keorganisasian. Ia tercatat pernah menjabat sebagai ketua Gerakan Ekonomi dan Budaya (Gebu) Minang periode 2001-20014. Selain itu, Adityawarman sempat menduduki posisi sebagai Ketua Pengurus Pusat (PP) Perhimpunan Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia periode 2011-2015. Dalam ranah politik, Adityawarman aktif sebagai juru kampanye Partai Bulan Bintang (PBB) dalam Pemilu 2014.

Sumber : rmol

Subscribe to receive free email updates: