Miryam Mulai Terseret Kasus Penyiraman Air Keras Novel Baswedan


FAKTAMEDIA.NET - Penyelidikan kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan sudah satu bulan berjalan. Polisi masih belum mengantongi nama terduga pelaku.

Meski demikian, kini penyelidikan mengarah ke mantan Politikus Hanura Miryam S Haryani. Dugaan Miryam terlibat mengacu kepada kasus yang tengah diusut Novel, korupsi e-KTP. Saat itu, Miryam merupakan salah satu saksi kunci korupsi mega proyek yang merugikan negara hingga Rp 2 triliun.

Demikian diungkapkan Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

"Penangkapan saudari Miryam, selain permintaan KPK, yang bersangkutan juga punya head to head dengan saudara Novel makanya cepat kita lakukan penangkapan dan dilakukan pendalaman oleh anggota. Apakah mungkin yang bersangkutan punya orang yang potensial melakukan aksi," ujar Kapolri di Medan, Rabu (17/5).

Sementara itu, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono mengungkapkan penyidik tak hanya memeriksa Miryam terkait kasus penyiraman air keras Novel Baswedan. Melainkan, segelintir orang yang perkaranya tengah ditangani Novel.

"Kan Novel pernah tangani kasus atau sedang tangani kasus, nah kita harus tanya itu, kasus-kasus yang sudah ditangani apa saja? Misalnya yang sudah apa di situ kira-kira? Ada yang sakit hati atau enggak di situ? Punya potensi semua di situ, itu perlu kita lakukan penyelidikan di situ," jelas Argo.

Menurut Argo, segala kemungkinan bisa saja terjadi dalam kasus ini. Bahkan, kata Argo, salah satu kemungkinan kasus yang menyedot perhatian yakni dugaan korupsi e-KTP.

"Kami pun juga misalnya disuruh bantu untuk mencari itu pun kita juga melakukan interview ya seperti ibu Miryam di situ. Kami interview, kita-kira ada potensi enggak kira kira Bu Miryam itu? Siapa yang menyuruh? Siapa yang melindungi itu perlu kita selidiki," ujarnya.

"Pokoknya kami lakukan penyelidikan di situ, yang punya potensi-potensi kita lakukan semuanya. Mungkin ada yang pernah sakit hati di situ, pokoknya kami dalami."

Sebelum peristiwa penyiraman air keras tersebut, Novel Baswedan sempat menjadi saksi dalam persidangan kasus korupsi e-KTP di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat. Kala itu, Majelis Hakim mengkonfrontir kesaksian Novel dengan Miryam.

Keduanya pun saling bantah. Di depan Majelis Hakim, Miryam mengaku mendapat tekanan saat diperiksa Novel di gedung KPK. Miryam merasa pusing dan sempat muntah karena bau durian yang keluar dari mulut Novel.

"Pertama kali disidik, Pak Novel bilang, sebenarnya ibu (Miryam) mau ditangkap dari tahun 2010," ujar Miryam.

Kemudian, pada pemeriksaan selanjutnya Miryam pun mengaku ditekan Novel.Terlebih saat pemeriksaan yang berlangsung di ruangan berukuran 2x2 meter, dirinya kerap ditinggal oleh penyidik.

"Pemeriksaan kedua juga saya masih tertekan. Masih trauma dengan omongan itu. Dari pagi sampai maghrib sering ditinggal. Dikasih makan sih, tapi ditinggal terus," ucap Miryam.

Kemudian, di pemeriksaan ketiga, Miryam meminta pemeriksaan berjalan lebih cepat. Ia mengaku semakin tertekan. "Ditambah saya ditelepon, ibu saya sakit," ucap Miryam.

Pada pemeriksaan keempat, Miryam mengugkapkan dirinya dibuat mabuk lantaran mulut Novel Baswedan tercium aroma durian. "Saya mual dan pusing, muntah-muntah," ujar Politikus Hanura tersebut.

Pengakuan Miryam itu dijawab santai Novel. Ia mengungkapkan segala tuduhan Miryam ke arahnya tidaklah benar.

"Kalau ibunya sakit, iya, saya tahu itu," ucap Novel.

"Untuk mulut saya yang bau durian. Saya memang makan kue dari rekan saya, rasanya rasa durian. Tapi saya tidak makan durian, karena tidak boleh ke gedung KPK bawa durian," jelas Novel.

Untuk ancaman penangkapan Miryam pada pemeriksaan pertama, Novel membenarkan hal tersebut.

"Dalam proses operasi tangkap tangan di tahun 2010, saksi ada dalam proses penyadapan, dan berbicara soal uang. Artinya penyidik berkeyakinan sekali dia terbiasa menerima uang. Saya rasa bukti rekaman itu untuk proses penyidikan nanti," kata Novel.

Sumber : merdeka

Subscribe to receive free email updates: