Lieus Sungkharisma Sesalkan Jokowi Tak Besuk Novel Baswedan


FAKTAMEDIA.NET - Musibah penyiraman air keras yang menimpa penyidik senior KPK, Novel Baswedan, memang mengundang banyak empati dan keprihatinan. Tak sedikit tokoh bangsa yang mengutuk tindakan biadab tersebut. Salah satunya adalah Koordinator Forum Rakyat, Lieus Sungkharisma.

Menurut tokoh Tionghoa yang tak mau lagi disebut Tionghoa ini, penyiraman air keras yang dilakukan orang tak dikenal ke wajah Novel Baswedan jelas tindakan biadab dan tidak bisa ditolerir. “Pelakunya harus segera ditangkap dan dihukum seberat-beratnya. Tindakan seperti ini tidak bisa dibiarkan,” katanya geram.

Seperti diketahui, penyiraman air keras kepada Novel Baswedan itu terjadi Selasa (11/4/2017) saat Novel berjalan kaki menuju rumahnya setelah sholat subuh di Masjid Al-Ihsan yang tak jauh dari rumahnya di kawasan kelapa Gading, Jakarta Utara.

Peristiwa itu sontak mengejutkan banyak pihak. SIlih berganti tokoh nasional datang membezuk Novel, baik ketika masih dirawat berada di RS Mitra Keluarga maupun setelah dibawa ke RS Jakarta Eye Center. Termasuk budayawan Jaya Suprana yang sebenarnya tak punya hubungan dan kepentingan apapun dengan Novel.

Jaya Suprana bahkan menyampaikan keprihatinannya yang mendalam atas penyerangan biadab yang dialami Novel itu. “Saya berharap masyarakat Indonesia menghentikan angkara murka, saling membenci dan saling mencelakakan di antara sesama warga bangsa,” pinta Jaya Suprana.

Kunjungan bezuk yang dilakukan Jaya Suprana itu, menurut Lieus Sungkharisma, menunjukkan besarnya jiwa kemanusiaan yang dimiliki budayawan tersebut. “Bayangkan, seorang Jaya Suprana yang tak ada hubungannya dengan Novel, menyediakan waktu untuk menghibur dan membesarkan hati penyidik KPK yang sedang terkena musibah itu. Padahal Jaya Suprana tak punya hubungan apapun dengan Novel. Ini jelas suatu teladan yang baik,” kata Lieus.

Sayangnya, tambah Lieus, sikap seperti yang diperlihatkan Jaya suprana itu tak tampak pada Presiden Jokowi. Sampai Novel dibawa berobat ke Singapura, ia tidak melihat Presiden Jokowi datang membezuk penyidik KPK itu. “Kita tak tau apa yang menghalangi Pak Jokowi untuk membezuk Novel. Tapi sebagai kepala negara, rasanya memang kurang elok. Apalagi dia hanya mengutus Teten Masduki selaku Kepala Staf Kepresidenan,” kata Lieus.

Bukan hanya Lieus yang menganggap sikap Jokowi yang tidak menunjukkan empati pada musibah yang dialami Novel Baswedan itu sebagai tidak bijaksana. Sejumlah pihak juga mempertanyakan hal itu. “SIkap Pak Jokowi itu sangat beda dengan pak SBY beberapa tahun lalu. Mantan presiden SBY bahkan meluangkan waktu untuk menjenguk aktivis anti korupsi, Tama S Langkun, yang ditabrak orang tak dikenal,” kata Lieus.

Menurut Lieus, kalau Ahok selaku gubernur non aktif Jakarta tidak datang membezuk Novel, ia bisa memakluminya. Sebab Ahok masih tersangkut dalam banyak kasus korupsi yang kini sedang disidik KPK. “Tapi kalau Presiden Jokowi yang tidak membezuk, itu jelas menimbulkan tanda tanya. Kenapa Presiden Jokowi tidak membezuk Novel Baswedan yang matanya terluka parah karena disiram air keras? Sikap Presiden Jokowi itu membuat kita mempertanyakan kembali komitmennya dalam pemberantasan korupsi,” kata Lieus.

Apalagi, tambah Lieus, ketika para pegawai KPK menginginkan dibentuknya Tim Pencari Fakta atas kasus yang menimpa Novel itu, Presiden Jokowi malah meminta untuk mempercayakan saja pada Polri.

Karena itulah, kata Lieus, walaupun Presiden Jokowi mengutuk keras penyerangan itu dan memerintahan Kapolri untuk mencari pelakunya, tapi semua itu belum cukup. “Semua itu tidak cukup. Novel itu aparat negara yang sedang menjalankan tugas negara untuk pemberantasan korupsi di negeri ini. Seharusnya empati Presiden itu tak berhenti hanya sebatas pernyataan dan perintah saja,” kata Lieus.

Sumber : repelita

Subscribe to receive free email updates: