Astaghfirullah! Ternyata ini yang Dimaksud Din Syamsuddin Soal 'Masjid Dhirar'


FAKTAMEDIA.NET - Dalam surat terbuka yang ditujukan kepada Presiden Joko Widodo untuk meminta agar menunda peresmian Masjid KH Hasyim Asy'ari yang berada di bilangan Daan Mogot, Ketua Dewan Pertimbangan MUI/Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah M Din Syamsuddin, sempat menyebut istilah 'Masjid Dhirar'. Di dalam surat terbuka yang tersebar luas semenjak kemarin itu, 'Din Syamsuddin' mengartikan istilah 'Masjid Dhirar' sebagai masjid yang membahayakan.

Setelah dicari dalam litelatur, maka soal sebutan masjid seperti itu ada dalam banyak pembahasan para cendikiawan Muslim. Pakar Tafsir, Prof Dr HM Quraish Shihab dalam bukunya Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW dalam Sorotan Quran dan Hadits Shahih pun telah mengungkapkan. Dia menyatakan saat itu jumlah orang-orang munafik dengan berkembangnya ajaran Islam, pada waktu yang sama juga muncul semakin banyaknya orang munafik. (Tulisan ini pernah ditulis di Republika.co.id oleh almarhum Damanhuri Zuhri, Selasa , 09 February 2016, 07:20 WIB dengan judul: Ini Alasan Rasulullah SAW Musnahkan Masjid Dhirar).

Quraish menceritakan, sebelum Rasulullah SAW bertolak ke Tabuk, orang-orang Munafik membangun bangunan yang mereka namai masjid. Mereka membangunnya bukan demi karena Allah SWT tetapi untuk tujuan menyambut kehadiran seorang yang bernama Abu Amir ar-Rahib.

Abu Amir ar-Rahib adalah seorang yang sangat aktif dalam membakar semangat kaum Musyrik Makkah dalam pertempuran Uhud. Ia lalu memeluk agama Kristen dan berangkat menemui Kaisar Romawi yang juga pemeluk agama Kristen.

Kaisar Romawi menjanjikan dukungan kepada Abu Amir ar-Rahib untuk memimpin masyarakat Madinah. Komunikasi antara Abu Amir dengan teman-temannya di Madinah berlanjut, dan untuk itulah kaum Munafik mendirikan tempat berkumpul bagi para pendukungnya sambil menanti kedatangannya.

Ketika Bani Amir selesai membangun Masjid Quba di pinggiran Madinah, mereka mengundang Rasulullah SAW untuk shalat di sana dan Rasul memperkenankan permintaan mereka.

Bani Ghanim bin Auf, penggagas pembangunan masjid kaum munafik, mengundang juga Rasulullah SAW, tetapi ketika itu Rasul sedang bersiap-siap menuju Tabuk.

Sekembalinya dari Tabuk dan setelah selesainya pembangunan masjid Bani Ghanim itu, Rasulullah SAW bersiap-siap menuju ke sana untuk shalat, tetapi sebelum melangkah turun firman Allah surat AT-taubah (9) ayat 107 yang artinya:

''Dan orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan terhadap orang-orang Mukmin secara khusus, dan masyarakat secara umum, dan untuk kekafiran dan tujuan pengingkaran kepada Allah SWT serta untuk memecah belah antara orang-orang Mukmin...''

Begitu turun ayat ini, Rasulullah SAW membatalkan niatnya berkunjung ke masjid Bani Ghani bahkan memerintahkan beberapa orang untuk pergi menghancurkannya. Lokasi bangunan masjid ini dijadikan Rasulullah SAW sebagai tempat pembuangan bangkai dan najis.

Sumber : republika

tambahan admin..

لَا تَقُمْ فِيْهِ اَبَدًا ؕ لَمَسْجِدٌ اُسِّسَ عَلَى التَّقْوٰى مِنْ اَوَّلِ يَوْمٍ اَحَقُّ اَنْ تَقُوْمَ فِيْهِ ؕ فِيْهِ رِجَالٌ يُّحِبُّوْنَ اَنْ يَّتَطَهَّرُوْا ؕ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِيْنَ

“Janganlah engkau melaksanakan sholat dalam masjid itu selama-lamanya. Sungguh, masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama adalah lebih pantas engkau melaksanakan sholat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Allah menyukai orang-orang yang bersih.”
(QS. At-Taubah: Ayat 108)

Pada ayat berikutnya,
اَفَمَنْ اَسَّسَ بُنْيَانَهٗ عَلٰى تَقْوٰى مِنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ اَمْ مَّنْ اَسَّسَ بُنْيَانَهٗ عَلٰى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهٖ فِيْ نَارِ جَهَـنَّمَ ؕ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ

“Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunan (masjid) atas dasar takwa kepada Allah dan keridaan-(Nya) itu lebih baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh lalu (bangunan) itu roboh bersama-sama dengan dia ke dalam Neraka Jahanam? Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”
(QS. At-Taubah: Ayat 109)

Setelah itu,

لَا يَزَالُ بُنْيَانُهُمُ الَّذِيْ بَنَوْا رِيْبَةً فِيْ قُلُوْبِهِمْ اِلَّاۤ اَنْ تَقَطَّعَ قُلُوْبُهُمْ ؕ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ

“Bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi penyebab keraguan dalam hati mereka, sampai hati mereka hancur. Dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.”
(QS. At-Taubah: Ayat 110).

Wallahu a'lam.

Subscribe to receive free email updates: