Syafi'i Ma'arif: “Kalau Ada Iblis Buka Sekolah Tinggi Dengan Kurikulum Yang Hebat, Saya Masuk ke Sana.”

Ilustrasi
FAKTAMEDIA.NET - Syafi’i Ma’arif mengingatkan umat Islam untuk tidak takut dengan perbedaan. Menurutnya, Alqur’an sendiri membebaskan orang untuk percaya atau mengingkari firman Allah itu.

“Kalau kita takut berbeda pendapat, atau takut masuk dalam kontroversi, ya lebih baik menjadi fosil aja. Alquran adalah satu-satunya kitab pada masa itu yang membebaskan audiensnya untuk mengingkarinya dan bahkan menantang mereka untuk menandinginya.,” tegas Mantan Ketum PP Muhammadiyah itu pada diskusi buku karya Fazlur Rahman yang digelar oleh penerbit Mizan bekerjasama dengan Laboratorium Studi al-Qur’an dan Hadis UIN Sunan Kalijaga di Yogyakarta kemarin, dilansir Rimanews.

Dalam kesempatan tersebut, Buya Syafi’i memaparkan hal-hal yang membuat Rahman menjadi kontroversial. Salah satunya adalah gagasan Rahman bahwa “Qur’an itu sepenuhnya kalam Allah, namun dalam memformulasikannya ke dalam Bahasa Arab Nabi Muhammad ikut serta. Ini yang bikin heboh,” katanya.

Sejak itu kemudian kecaman terhadapnya semakin besar sehingga akhirnya dia harus terusir dari Pakistan dan akhirnya menghabiskan masa hidup di Chicago, Amerika Serikat. Akan tetapi, Buya Syafi’i yang merupakan murid langsung Rahman menjelaskan bahwa sifat Alquran yang multi-tafsir inilah yang justru menjadikan kitab suci itu relevan dijadikan rujukan di setiap zaman dan tempat.

Buya lalu mengatakan bahwa sektarianisme dalam Islam berawal dari sengketa para elit politik Arab, yang berkat mereka sejarah awal Islam dipenuhi oleh bercak darah. Untuk itu, diperlukan nalar kritis dalam membaca sejarah Islam awal.

“Dalam perang Shiffin, yang terlibat adalah sahabat-sahabat yang merupakan kader inti Nabi; Aisyah, Ali, dan Tholhah. Ada apa itu?” tanya Buya.

Nalar kritis yang sadar historis ini juga harus dikembangkan dalam membaca alquran dan hadis. Buya memberikan beberapa hadis yang perlu dikaji kembali dan ditundukkan pada al-Qur’an yang al-Furqan (pembeda), terutama hadis yang bersifat ramalan. Beliau menyatakan bahwa Nabi Muhammad bukan peramal dan tidak pernah meramalkan sesuatu, kecuali yang diramalkan oleh wahyu (misalnya tentang penaklukan Roma). Beliau menegaskan lagi bahwa Nabi tidak bisa meramalkan masa depan, karena memang tidak diberi hak oleh Allah untuk melakukan itu.
Islam, lanjut Buya, harus dipahami dengan mendalam dan benar-benar. Islam tidak seharusnya dikerdilkan. Banyak orang saat ini yang tidak mengerti dan akhirnya hanya mengambil Islam yang muncul belakangan, tanpa memahami unsur klasiknya.

“Banyak unsur dari Islam yang diwarisi Muslim sekarang ini yang merupakan hasil pertikaian elit politik Arab pada masa awal Islam. Kalau islam tidak kita bebaskan dari ini, saya rasa tidak ada harapan,” katanya.

Buya Syafi’i lalu menyinggung tentang sebuah agenda para intelektual Muslim Indonesia untuk menunjukkan pada Barat bahwa wajah Islam itu bukan hanya Arab. Paham Islam-Arab ini juga mengarahkan orang untuk bersikap anti terhadap Barat. Ini menurut Buya bertentang dengan pemikiran Rahman.

Lebih lanjut, Buya mengatakan bahwa sikap politik dan keagamaan yang dibangun berdasarkan sikap anti, tidak akan menjadi sikap yang sehat. Buya kemudian mengutip ungkapan di kitab Nahj al-Balaghah yang dinisbatkan pada Ali bin Abi Thalib, “Ambillah hikmah walaupun ia berasal dari seorang munafik.”

Buya kemudian melontarkan anekdot serius, “Kalau ada iblis buka sekolah tinggi dengan kurikulum yang hebat, saya masuk ke sana.”

Sikap anti tadi menurut Buya akan berkembang menjadi sikap yang menolak introspeksi. “Mengapa barat menghancurkan kita, karena kita rapuh dari dalam. Kita dipermainkan orang lain karena kita memang pantas dipermainkan. Mengapa umat islam dijajah, karena mereka memang menderita mentalitas yang pantas dijajah.”

Rahman mempersilakan kita untuk berfikir bebas, tetapi di saat yang sama menuntut untuk kritis, baik terhadap Barat maupun terhadap warisan Islam. Sikap kritik terhadap warisan Islam harus ditumbuhkan dari kesadaran sejarah supaya tidak mudah dikelabui dalam memahami dasar ajaran Islam.

“Alquran harus dipahami dengan tuntas dan baik, dengan kesadaran sejarah, agar tidak mengarah pada kesimpulan-kesimpulan yang malah bertentangan dengan ideal moral Alquran itu sendiri. Buat al-Qur’an bersahabat dengan kita,” katanya.

Dalam usaha itu, mengutip Amin Ma’sum, seorang tokoh Islam dari Klaten, umat Islam harus membaca Alquran dengan aqlun sahih (akal lurus) dan qalbun salim (hati damai). Tanpa itu, Alquran tidak mau bersahabat dengan kita,” tutup Buya.

Sumber : pekanews

Subscribe to receive free email updates: