Nurul Fahmi: Saya Tidak Akan Berhenti Demo, Saya Terbiasa Ikut Ulama, Ini Cuma Kerikil Kecil


FAKTAMEDIA.NET - Nama Nurul Fahmi langsung menjadi buah bibir di media sosial setelah video dan foto tentang dirinya yang membawa bendera Merah Putih bertuliskan kalimat Lailahaillah tersebar luas. Tak lama, dia pun langsung ditangkap Polres Jakarta Selatan. Hingga akhirnya mendapat penangguhan penahanan karena dijamin oleh Ustaz Arifin Ilham. Berikut penuturan Nurul Fahmi kepada Rakyat Merdeka:

Kenapa anda menambah­kan kalimat tauhid di bendera merah putih itu?

Saya inisiatif bikin bendera,karena saya bukan anggota siapa-siapa, saya bukan anggota ormas yang manapun. Nah, saya tidak enak megang bendera yang bukan anggotanya. Ya sudah saya berpikir untuk bendera. Makanya kalau dicari nggak ada duanya.

Bendera tauhid itu anda da­pat beli atau bikin sendiri?

Bikin. Bukan beli langsung. Saya rancunya di situ. Saya ke tukang setting di Rawamangun, minta bikinan seperti model tersebut, lalu cetaknya di Poncol, Senen. Jadi bukannya bendera disablon.

Kapan dibuatnya?

Tanggal 27 Oktober 2016. Jaraknya sudah dua bulan dari sekarang.

Pertama dipakai?

Saat Aksi Bela Islam ke-II. Lalu bendera itu dibawa ke Aksi Bela Islam di Bekasi tanggal 25 November. Terus saya bawa saat 212, dan terakhir saya bawa ke Mabes Polri. Saat aksi 411 itu sangat jelas. Posisi saya itu di depan kawat, dekat mobil komando, berhadapan dengan polisi, tapi tidak ada yang mem­permasalahkan.

Kenapa?

Ya karena saat itu memang sentimennya belum dicari-cari. Tapi sekarang sentimennya lagi memanas, maka dicari-cari. Sampai Habib Rizieq kan bilang, kalau ada semut keinjak pun, semut disuruh melapor.

Apa perasaan anda saat itu?

Saya yakin, hari Kamis atau Jumat pasti ditangkap. Padahal saya sudah ada niat untuk datang ke Polres untuk kasih tahu kalau di video itu saya, tapi karena ada acara lamaran teman di Cinere, saya batal ke Polres. Karena sudah kesorean dan macet, saya mampir ke rumah kakak di Cilandak, setelah sholat Magrib dan Isya, saya ketiduran.

Ada yang terjadi pada malam itu?

Iya, sekitar jam 01.30 WIB, datanglah mereka (polisi). Buka pintu langsung silau senter dan kamera handphone langsung menyorot. Pakaian preman. Oh Polisi, ya sudah.
Ada penggeledahan?

Mereka menanyakan motor yang saya gunakan, tapi motor itu di Klender. Saya ke Cilandak pakai motor yang lain. Setelah itu langsung kita ke rumah saya di Klender.

Di Klender, apa yang polisi lakukan?

Dari awal mereka baik. Sampai saya bilang jangan berisik ya pak, orangtua saya masih tidur. Saya ambilkan baju, sorban, sar­ung, jaket, handphone, sepatu, bendera dan motor, dan langsung dibawa. Terus saya dibawa ke Polres Jakarta Selatan, sampai sana jam 4 subuh.

Lalu di Polres?

Dari mulai penangkapan sam­pai di-BAP sekitar 30 jam. Saya ditangkap Jumat dini hari jam 1.30 WIB, dan selesai BAP hari Sabtu jam 5 Subuh. Di ruang penyidik, hanya bisa duduk, sholat dan makan.

Ada pihak yang bersedia mendampingi Anda?

Ada beberapa LBH. Ada ACTA, dari GNPF, dan masih ada tiga LBH lagi. Sekitar 30-40 orang sudah menandatangi akan membantu saya.

Kapan proses BAP mulai dilakukan?

Mulai jam 5 sore pada hari Jumat. Datang empat lawyer dari LBH. Pemeriksaan itu berakhir jam 4 subuh. Namun ada yang aneh, seharusnya kan BAP dipelajari dulu, tapi tiba-tiba surat penahanan sudah ada. Surat penahanan itu kan harus ditandatangin Kapolres dulu, padahal tengah malam Kapolresnya sudah pulang. Lawyer pun langsung ngotot. Bagaimana maksudnya? BAP baru selesai surat penahanan sudah ada. Sempat adu mulut. Lawyer ngajak pulang, tapi sama penyidik ditarik lagi tangan saya. Akhirnya, saya ditahan.

Kapan surat penangguhan diajukan?

Pada hari Senin (23/1), surat penangguhan baru masuk, karena Kapolresnya baru masuk. Surat tersebut diajukan oleh istri. Saya suruh tunggu dua hingga tiga hari. Tapi yakin tidak akan ditangguhkan, karena kalau ke­luarga tidak kuat.

Terus, hingga Ustadz Arifin Ilham memberikan jaminan, bagaimana ceritanya?

Allah punya rencana, Ustadz Arifin Ilham bergerak menemui Kapolri Tito Karnavian memohon penangguhan. Ustadz Arifin tidak ada pertemuan dengan pihak keluarga saya terlebih dahulu. Hingga hari Selasa pagi saya dipanggil Kapolres, penyidik, dikasih tahu kalau surat penag­guhannya sudah disetujui.

Setelah keluar dan bertemu Ustaz Arifin, apa yang dis­ampaikan Ustadz Arifin ke Anda?

Antum sekarang istirahat saja di rumah, kumpul bersama ke­luarga, sambil merampungkan hafalan Al-Quran antum.

Apa Anda akan berhenti demo setelah ini?

Tidak. Tetap ikut. Saya senang, saya bela yang benar. Lagipula saya ikutin ulama. Jangan ta­kut. Ini cuma kerikil kecil. Kita sudah terbiasa dengan seruan ulama. Siap mati, siap penjara. Bahkan para ulama pun sudah pernah dipenjara. Seperti Habib Rizieq, bahkan Bung Karno pun pernah dipenjara.

Sumber : rmol

Subscribe to receive free email updates: