Rizal Ramli: Yang Terbaik adalah Ahok Mengakui Kesalahan dan Mundur dari Pilkada

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Rizal Ramli bersama Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (kanan), mengikuti rapat koordinasi, di kantor Kemenko Maritim, Jakarta, 19 Agustus 2015. Rapat membahas target pengembangan pariwisata di DKI Jakarta sebagai destinasi wisata favorit kedua setelah Bali. TEMPO/Imam Sukamto
FAKTAMEDIA.NET - Tokoh nasional Rizal Ramli menyarankan jalan terbaik bagi Basuki T. Purnama (Ahok) dan Presiden Joko Widodo untuk keluar dari situasi kritis yang menggerogoti legitimasi kekuasaan mereka di ibu kota negara dan level nasional.

Masukan dari Rizal bisa dibaca dalam opininya yang berjudul "Jakarta’s Governor Gave Indonesian Islamists an Opening", dimuat website media asing ternama, The Wall Street Journal, edisi Rabu (9/11).

Mantan Menko Perekonomian itu mengatakan, gejolak sosial yang terjadi di ibu kota Indonesia belakangan ini bukan dipicu latar belakang Ahok yang keturunan Tionghoa dan beragama Kristen. Dugaan penistaan agama yang dilakukan Ahok, kata Rizal, adalah kasus terakhir setelah sebelumnya kebijakan-kebijakan Ahok sebagai gubernur memarjinalkan orang-orang miskin dan meninggalkan jejak skandal keuangan.

Rizal menilai janji Presiden Jokowi proses hukum terhadap Ahok akan berjalan cepat dan transparan tidak akan meredam kemarahan masyarakat. Alasannya, mereka yang anti Ahok terlanjur percaya bahwa pengadilan pasti membebaskan Ahok karena kepentingan yang besar dari Presiden Jokowi.

Bagi Jokowi, Ahok bukan cuma mantan rekan kerja sebelum ia meninggalkan jabatan Gubernur Jakarta untuk menjadi calon presiden pada 2014. Tetapi Jokowi juga ingin memanfaatkan Ahok untuk kepentingan politiknya di Pilpres selanjutnya. Sayangnya, keberadaan Ahok di pemilihan kepala daerah Jakarta dapat menyebabkan konsekuensi serius, baik untuk jabatan kepresidenannya dan bahkan untuk negara.

Jika Ahok dinyatakan "tidak bersalah" oleh pengadilan dalam kasus penistaan agama, seperti yang diharapkan Jokowi, ada kemungkinan akan lebih banyak demonstrasi yang tidak hanya menuntut dia mundur tetapi menciptakan perubahan politik yang lebih besar.

"Ada juga risiko serius demonstrasi bisa berubah menjadi kekerasan. Kaum fundamentalis bisa melihat inilah kesempatan mereka untuk mengeksploitasi situasi dan memperkuat cengkeraman mereka di lanskap politik Indonesia. Jika demikian, perekonomian nasional pasti terpuruk dan institusi tentara bisa memutuskan langkah," ungkap anggota panel ahli ekonomi PBB itu.

Rizal mengatakan, skenario terbaik untuk Ahok adalah mengakui kesalahannya dan mengundurkan diri dari pemilihan kepala daerah (Pilkada) Jakarta. Jokowi harus menarik mundur Ahok dan meminta melakukan yang terbaik bagi negara.

"Itu akan meredakan situasi genting dan mencegah fundamentalis untuk mengejar kekuasaan," ungkap Rizal.

Jokowi memenangkan kursi kepresidenan dengan menjanjikan konsentrasi pada reformasi politik dan pertumbuhan ekonomi. Dan untuk memenuhi janji tersebut, dia mesti mengembalikan "jin" yang selalu mengintainya untuk masuk kembali ke dalam botol. 

Sumber : rmol

Subscribe to receive free email updates: