Nah Lho! Di Balik Aksi 2 Desember, Makar yang Disebut Kapolri Tertuju Pada Wapres JK?


FAKTAMEDIA.NET - Belakangan muncul kata’ makar’ dari mulut Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian. Presiden Jokowi pun merespon dengan memberi instruksi kepada Polri dan TNI untuk mewaspadai upaya makar di balik aksi 2 Desember nanti.

Hal ini menimbulkan berbagai asumsi sementara kalangan tentang aktor makar yang dimaksud Jokowi dan Kapolri itu.

“Pertanyaan saya, kesimpulan makar yang didapat Presiden itu datang dari sumber resmi negara atau lagi-lagi berdasarkan laporan konsultan?” kicau Andi Arief melalui akunnya di twitter @AndiArief_AA, Selasa (22/11/2016).

Menurut Andi, jika benar ada rencana makar terhadap kekuasaan Jokowi, maka orang pertama yang dimaksud Jokowi pasti Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla.

“Padahal JK tidak kuasai parlemen. Kenapa Pak JK diduga dimaksud Jokowi Makar? Karena hanya Pak JK yang sangat berpeluang secara konstitusional seperti Habibie era Soeharto,” jelasnya.

Andi mengatakan, sebaiknya Jokowi dan Kapolri segera mengklarifikasi pernyataan ‘makar’ tersebut.

“Kasihan Pak JK yang secara tidak langsung tertuduh atas wacana makar. Siapa tertuduh tidak langsung pelaku makar yang dituduh Jokowi selain Pak JK?” twitnya lagi.

Tembakan makar bisa saja diarahkan ke Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo yang secara teknis dinilainya paling siap. Nama Panglima TNI menjadi buah bibir sejak kata makar dikemukakan Kapolri dan Jokowi.

Namun jika belajar dari pengalaman yang sudah pernah ada, Andi berpendapat, justru kepentingan atas wacana makar, tak lain Megawati Soekarnoputri dan PDI Perjuangan yang menjadi motor penggulingan pemerintahan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

“Tetapi gagal menggulingkan SBY-Boediono dengan kekuatan parlemen dan jalanan,” ulasnya.

Di tangan Megawati dan PDIP sebetulnya makar terhadap Jokowi bisa dilakukan baik mengingat posisi Megawati bukan hanya ketua umum PDIP, tapi juga ketua koalisi dan orangtua Puan Maharani.

“Jika Pak JK, Panglima TNI, dan PDIP/Megawati ternyata tidak ditemukan fakta mau makar, maka kata makar hanya untuk selamatkan Ahok,” simpulnya.

Sebetulnya, lanjut Andi menekankan, wacana makar atau penggulingan kekuasaan Jokowi bukan bisa dilakukan atau tidak. Tapi beralasan atau tidak, apalagi sudah banyak kekecewaan terhadap Jokowi yang terkesan melindungi Ahok dari kasus-kasus hukum.

“Perlindungan khusus Ahok akhirnya menjadi kemarahan konkrit rakyat pada kasus Al-Maidah. Teriakan aksi: bertindak adil atau mundur,” tambahnya.

Andi pun mengingatkan, jika rakyat sudah melakukan protes luas secara konsisten maka sudah hukumnya mendorong perpecahan di elit.

“Jadi bukan makar tapi perpecahan elit,” cetus mantan staf khusus Presiden bidang Bencana dan Bantuan Sosial ini.

Sumber : pojoksatu

Subscribe to receive free email updates: