Ditolak Warga Saat Kampanye, Djarot Ancam Laporkan ke Bawaslu


FAKTAMEDIA.NET - Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat meminta kepada para warga DKI Jakarta untuk berdemokrasi secara sehat. Tidak anarkistis, terutama pada saat melakukan penolakan kepada pasangan calon.

Menurutnya, apabila ada warga yang menolak pasangan calon, tidak dengan unjuk rasa. Tapi tunjukan saja hak pilihnya nanti pada saat pencoblosan 15 Februari 2017 mendatang.

"Kalau memang dia (massa) menolak dan tidak setuju dengan pasangan Ahok-Djarot, nanti saja tanggal 15 Februari 2017 (saat pencoblosan)," kata Djarot di kawasan Kembangan, Jakarta Utara, Rabu, 9 November 2016.

Djarot menegaskan bahwa dalam demokrasi dan pendidikan jangan saling mencaci, memaki, apalagi menistakan agama. "Setiap orang, masing-masing orang pasti punya kelemahan, pasti punya kesalahan. Jadi tidak boleh menghakimi seperti itu," ujar Djarot.

Kemudian, apabila penolakan ditunjukan dan dilalukan unjuk rasa saat kampanye berlangsung, Djarot bersama timnya tidak segan-segan melaporkan ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).

"Saya beritahu bahwa ini dalam rangka kampanye Pilkada. Setiap kandidat boleh masuk ke mana saja. Kalian (massa) tidak boleh menolak. Kalau kalian menolak dan menghalang-halangi, itu ada UU Pilkada. Kalian bisa dilaporkan ke Bawaslu dan bisa masuk delik pidana," ujarnya.

Mantan Wali Kota Blitar itu pun mengimbau agar warga dewasa dalam berdemokrasi. "Siapapun lah monggo silahkan masuk, tentang bagaimana menggunkan hak pilihnya, itu nanti di Februari 2017 saja," imbaunya.

Di samping itu, Djarot menjelaskan, bahwa setiap kampanyenya hanya untuk menyerap aspirasi warga. Dari kunjungan yang dilakukan juga ditemukan banyak persoalan-persoalan yang harus dibenahi.

"Saya banyak menemukan persoalan-persoalan itu. Dan kalian (massa yang menolak) lihat bahwa masyarakat tidak menolak kami. Mereka senang. Bahkan ada yang mengajak saya untuk melihat wilayahnya yang banjir. Saya masuk ke sana, mereka sangat welcome," jelas Djarot.

"Jangan lah sekelompok elit-elit yang masih belum dewasa, kemudian membuat masyarakat kita seakan-akan jadi tidak dewasa," tambahnya.

Sumber : viva

Subscribe to receive free email updates: