Letjen (Purn) Johannes Suryo Prabowo: Minoritas Jangan Sok Jago & Tidak Menghargai Posisi Mayoritas


FAKTAMEDIA.NETLetjen TNI (Purn) Johannes Suryo Prabowo khawatir dengan nasib bangsa ketika terjadi minoritas berkuasa atas mayoritas.
Sebagai yang beragama Katolik, mantan Pangdam Jaya/Jayakarta ini sadar bahwa “hanya kepala daerah yang berasal dari kelompok MAYORITAS nasionalis lah, yang bisa MENGAYOMI MINORITAS”.
“MINORITAS tidak akan dapat melinduni sesamanya dari dominasi MAYORITAS bila dia sok jago dan tidak menghargai posisi MAYORITAS.
Berikut pernyataan lengkap yang ditulis di akun facebooknya, Sabtu (22/10/2016):
Sikap negarawan mantan Kepala Staf Umum TNI ini mendapat banyak aoresiasi dari netizen:
“Sangat benar Ndan…… kata kunci minoritas yg tau diri serta mayoritas yg melindungi.” (Adi Susanta)
“Terima kasih Jendral.. anda sdh menempatkan permasalahan Ahok ini dengan bijak. Meskipun anda beragama minoritas tapi bisa menempatkan secara proporsional tanpa menebarkan/menimbulkan isu SARA. Anda memang berjiwa besar dan seorang negarawan sejati. Semoga masih banyak negarawan seperti anda di negri yang mulai kacau dan diambang kehancuran ini. Bravo Jendral!” (Bayu Bajra)
“Logika memang seperti itu jenderal.. Kita tidak pernah berdebat masalah gubernur Bali, karena memang sangat wajar jika Bali dipimpin oleh seorang beragama hindu.. Namun sangat disayangkan jika masyarakat mayoritas muslim dipimpin oleh se onggok ta*k dari negeri tiongkok.. Saya percaya bahka JS prabowo orang yg bijak dlm berfikir..” (Antoni Monek)
“Apa yang terjadi adalah test case sejauh mana “kekuatan” mayoritas saat ini dan juga untuk memancing “rusa” keluar dari rerimbunan pohon shg mudah ditembak. Hasil pilkada DKI akan sangat menentukan arah kebijakan thd mayoritas ke depannya. Yang mengkhawatirkan saya adalah terbentuknya ketidakstabilan negara ketika minoritas yg zhalim berkuasa atas mayoritas.” (Sofyan Muharam)
“BRAVO Jenderal… Di negeri ini kata TOLERANSI sering di-PELINTIR maknanya oleh ‘PEMBELA’ minoritas…
Dan tanggapan atas ucapan si MULUT BUSUK dimaknai sebagai upaya PECAH BELAH keharmonisan berbangsa, shg segala cara & argumentasi dilakukan untuk menghalangi/menghindarkan PROSES PENEGAKAN HUKUM.
Bahkan ada ‘Jenderal Gila’ melakukan ‘provokasi’ & ‘ancaman’ dg menyatakan bila Pilkada DKI chaos akan menyebabkan pemerintah ‘harus’ menerapkan kondisi ‘darurat sipil’…
Padahal masalahnya sederhana CUKUP TANGKAP & PROSES SECARA HUKUM si MULUT BUSUK toh syarat” secara hukum sudah terpenuhi.
Rupanya ada ‘kesengajaan’ utk menimbulkan chaos, shg rezim punya alasan MEMBERANGUS DEMOKRASI dg penerapan DARURAT SIPIL !!
Ini sekedar pengamatan & analisa rakyat bodoh, Jenderal.. #Save_Indonesia.”
Sumber : Portalpiyungan

Subscribe to receive free email updates: