Jokowi Ikut Picu Isu SARA, "Kapolda Non Muslim Ditempatkan di Banten, Ulama & Umat Islam Bereaksi Keras"


FAKTAMEDIA.NET - Penempatan Kombes Pol Listyo Sigit Prabowo sebagai Kapolda Banten yang baru mengundang reaksi keras dari kalangan ulama dan umat Islam di Banten. Ulama Banten menilai, penempatan Kapolda yang non Muslim ini berpotensi mengundang konflik SARA.

Pemikir Islam Muhammad Ibnu Maduki menilai, penempatan Kapolda Banten yang akhirnya memunculkan protes, menjadi bukti bahwa Presiden Joko Widodo tidak melihat kondisi warga setempat.

Menurut Ibnu Masduki, seharusnya Jokowi melihat kearifan lokal untuk menempatkan pejabat di daerah, mengingat isu SARA sangat sensitif. “Seharusnya SARA bukan ditutup-tutupi, tetapi dibuka saja demi untuk kebaikan bersama,” jelas Ibnu Masduki kepada intelijen (12/10).

Ibnu Masduki menegaskan, proteswarga dan ulama Banten terkait penempatan Listyo bisa memunculkan citra negatif bagi Jokowi. “Maka yang terpikir di benak masyarakat itu Jokowi sukanya menempatkan orang-orang non Muslim di mayoritas Islam, seperti kasus di Jakarta, di Solo. Jokowi selalu meninggalkan wilayah itu dipimpin non Muslim,” papar Ibnu Masduki.

Diberitakan sebelumnya, pergantian Kapolda Banten dari Brigjen Pol Ahmad Dofiri kepada Kombes Pol Listyo Sigit Prabowo mendapat penolakan dari ulama dan elemen masyarakat di Banten.

Atas penolakan itu, ulama se-Banten mendatangi Mabes Polri untuk beraudiensi dengan Kapolri Jendral Polisi Tito Karnavian. Ulama meminta Kapolri agar tidak menempatkan penjabat Kapolda Banten yang non Muslim.

Aksi penolakan itu tidak melibatkan/menggunakan nama organisasi apapun, melainkan atas nama ulama Banten dan MUI Banten. Para ulama membawa 400 tanda tangan ulama Banten yang menolak Kapolda non Muslim ke Mabes Polri.

Sumber : intelijen

Subscribe to receive free email updates: