Semalam Situasi Bukit Duri Mencekam


FAKTAMEDIA.NET - Ratusan polisi sudah mengepung kawasan Bukit Duri, alat-alat berat (beko) sudah siap menghancurkan warga. Malam ini, di Bukit Duri, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan bagai suasana perang. Aparat pemerintah daerah, polisi dan Tentara Nasional Indonesia memusuhi warga negaranya sendiri. Warga Negara Indonesia.
Entah, yang mereka lakukan demi apa? Kalau mereka ingat dari sepatu, celana dalam, pakaian seragam, makan dan minum yang masuk ke dalam perutnya dan anak isterinya, sampai topi adalah pajak dari hasil warga negara.
bukit-duri-1
Pemerintah dan aparat keamanan yang seharusnya melayani kini bertindak bak teroris. Inilah pandangan mata aktivis Forum Kampung Kota. Di pos keamanan lingkungan (Kamling) kompleks Garuda Indonesia (GIA), tampak 30 polisi sabhara. Di depan cucian mobil sebelah GIA, pangkalan ojek SMA Negeri 8, tampak sekitar 10 intel reserse tanpa seragam, tapi kelihatan sebagai aparat (intel melayu), di lokasi bekas kebakaran RT 3/RW 12 di tanaha kosong berdiri satu tenda peleton polisi, di jembatan Tongtek ada tiga truk polisi dan satu buah mobil Satpol PP beserta belasan intel (reserse). Di dalam sepanjang jalan dari Tongtek sampai pos RT 8 belasan intel lalu lalang, membuat keadaan bertambah mencekam.
Menurut info dari Kapolres Jakarta Selatan, Rabu (28/9) pagi pukul 06.00 warga akan diserang aparat. Karena itu satu kompi Brigade Mobil (Brimob), satu kompi sabhara, 300 satpol PP dan satu peleton TNI, sudah disiapkan untuk mendukung serangan itu. Anggota DPR dari PDI-Perjuangan, Tubagus Hasanuddin, pada warga berjanji akan memanggil Panglima TNI, karena terlibat dalam penggusuran warga Jakarta. “TNI bekerja untuk rakyat, bukan melayani penguasa apalagi pengusaha,”katanya
bukitduri-2
Dalam suratnya, pelayan masyarakat yang selama hampir 30 tahun bersama-sama mendidik rakyat di Bukit Duri, I.Sandyawan Sumardi, berharap solidaritas kepada para jurnalis. Mohon para jurnalis menjadi “saksi mata dan nurani dunia”  apa yang akan terjadi di Bukit Duri. “Kami komunitas warga Bukit Duri akan digusur paksa oleh Pemprov DKI, Rabu pagi, mesiki proses gugatan masih berlangsung di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat,”tulis Sandy.
Warga dengan class action menggugat Pemerintah Provindi DKI Jakarta, BBSCC, Pemerintah Kota Jakarta Selatan, senin kemarin (26/9) baru memasuki sidang ke-9. Majelis Hakim, sudah memerintahkan agar pembongkaran dan penggusuran jajgan dilakukan sampai ada putusan pengadilan. Tapi, pekan lalu, surat perintah pembongkaran (SP) ke-3 malah dilayangkan, ditempelkan di rumah-rumah warga, karena warga tak mau menerima keputusan itu.”Rezim ini benar-benar dalam ketakutan berlebihan. Bukit Duri ini kecil, kenapa mesti dikepung sejak malam hari begini rupa,”ujar Sandy.
Perkampungan Bukit Duri memiliki sejarah panjang. Perkampungan yang berada di Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan, sudah ada pada zaman penjajahan Belanda di Indonesia. Nama Bukit Duri berawal pada 1672, dari tanah seluas sekira 5 kilometer  milik seorang saudagar kaya raya asal Pulau Lontar, Banda, Maluku, Meester Cornelis Senen.  Untuk menghindari lalu lalang perang griliya tentara Mataram dan Banten, maka pada tahun 1656 guru agama Kristen tersebut membuat pagar bambu berduri. Hal itu juga untuk melindungi para penebang hutan dan tukang kebun yang dipekerjakannya.
Untuk menjaga tanah tersebut, Meester Cornelis Senen juga mempekerjakaan 14 tentara. Karena sang pemilik tanah tidak ingin tanahnya menjadi aktivitas peperangan. Dari pagar berduri yang dibangun oleh Meester Cornelis Senen, akhirnya tercetuslah sebuah nama Kampung Bukit Duri. Banyak warga yang memiliki hak atas tanah di Bukit Duri itu.
Presiden Jokowi, tampak menutup mata diam saja atas penggusuran itu.Padahal saat hendak menjadi Gubernur DKI datang bersama wakilnya Basuki Tjahja Purnama alias AHok, “mengemis-ngemis” agar warga mendukungnya. Waktu itu mereka berdua berjanji tak akan menggusur, bahkan sepakat dengan tawaran warga dan para arsitek tatakota untuk membangun rumah deret yang sudah lengkap dengan cetak biru dan rencananya. Tapi semua ini kini berubah AHok lebih mengedepankan kekuasaan dengan mengerahkan aparat. Tak salah jika warga akan melawan, dengan cara apapun. “Kami berdoa, semoga tidak terjadi tidak kekerasan. Kenapa rezim ini lalim sekali, mau menggebuki rakyatnya sendiri,”ujar Rita, seorang warga yang simpati.
Sumber : indonesiapolicy

Subscribe to receive free email updates: