Megawati Marah : Siapa di Sini yang Anti Ahok?!


FAKTAMEDIA.NET - Megawati Secara simbolik memberikan sinyal penolakan dengan menunjuk Risma sebagai ketua juru kampanye nasional. Namun melihat dinamika politik masih menunjukkan PDIP tidak mendukung Ahok, maka Megawati memanggil Ahok secara tertutup. Setelah keluar Ahok mengaku mendapat restu Megawati untuk maju sebagai Cagub DKI.

“Yang pasti, bagi Bu Mega, aku (Ahok) tidak perlu fit and proper test dan tidak perlu mendaftar karena aku sudah pernah terdaftar pada 2012. Itu Bu Mega ngomong. Tadi aku ketemu Ibu Mega kok. Tadi, kan, aku mampir sama Pak Djarot ke kantor DPP. Aku belum pernah lihat (DPP). Bu Mega, intinya, ya, beliau tetap, saya dengan Djarot, beliau setuju,” cerita Ahok 17 Agustus lalu.

Namun sampai akhir bulan Agustus ternyata kondisi internal PDIP belum surut. Masih banyak kader PDIP yang memberikan sinyal penolakan dan ingin agar partai mengusung calon sendiri melawan Ahok seperti yang dilontarkan oleh Gembong Warsono maupun Andreas

Hingga akhirnya 1 September atau dua hari yang lalu, dalam kesempatan bertemu PDIP Jakarta secara tertutup, Megawati menanyakan dengan nada tinggi “Siapa di sini yang anti Ahok?!!”

Nadanya mirip menghardik. Menurut informan yang ada di lokasi kejadian, beberapa kali Mega menunjukkan kemarahannya terhadap kader yang masih berusaha menarik Risma ke Jakarta. Mega pun memarahi secara personal pada beberapa nama.

“Busyet, ngeri kali… Ibu ketularan Ahok (marah-marahnya)” ucap informan tersebut.

Setelah pertemuan tersebut, DPD PDIP Jakarta langsung bertemu Ahok untuk membahas Pilgub Jakarta. Jadi kalau sejak dua hari lalu suara penolakan kader PDIP terhadap Ahok sudah mereda, mungkin salah satu faktornya karena Megawati sudah angkat suara.


Selanjutnya tinggal kita lihat, ke depan apakah masih ada kader yang berani berkomentar mewakili PDIP dan menyatakan menolak Ahok? Sepertinya tidak mungkin. Kalaupun mereka masih mau menarik Risma atau siapapun untuk melawan Ahok, berarti mereka sedang melawan Mega secara terbuka. Konsekuensinya pasti pengasingan. Tidak dipecat, hanya aksesnya jadi sangat dibatasi, ini biasa dalam partai untuk menjaga dinamika politik seperti yang dialami oleh Plt Ketua PDIP DKI Bambang DH.

Sumber : amimazda

Subscribe to receive free email updates: