Detik-Detik 'Si Pemberantas Koruptor' Antasari Azhar Hirup Udara Bebas


FAKTAMEDIA.NET - KASUS cinta terlarang mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antasari Azhar dengan seorang caddy golf Rani Juliani sempat menghebohkan publik pada 2009. Hal itu pula yang ditengarai membuatnya terlibat kasus pembunuhan terhadap Direktur PT Putra Rajawali Banjaran, Nasrudin Zulkarnaen. Hingga akhirnya Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menjatuhkan vonis 18 tahun penjara terhadap suami Ida Laksmiwati itu. Ia pun harus mendekam dan merasakan dinginnya sel Lapas Klas 1A Tangerang.

“Terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana, memenuhi unsur pidana pembunuhan berencana terhadap Nasrudin. Mempidana terdakwa dengan hukuman penjara selama 18 tahun penjara,” ujar Ketua Majelis Hakim Herri Suwantoro di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jalan Ampera Raya, Jakarta Selatan, Kamis 11 Februari 2010. Berbagai upaya hukum dilakukan Antasari untuk bisa membebaskannya dari jerat hukum karena ia merasa dijebak dalam cinta segitiga itu. 

Mulai dari upaya banding, kasasi, pengajuan peninjauan kembali (PK) ke Mahkamah Agung (MA) hingga permintaan grasi ke presiden. Namun, upayanya itu tak bisa membuatnya lolos dari dinginnya jeruji besi penjara. 

Termasuk ketika berbagai spekulasi bermunculan mulai dari anggapan bahwa ia merupakan korban kriminalisasi dari terkuaknya kasus korupsi di tubuh Polri tak pula mampu menolongnya. Ia pun harus tetap legowo menerima vonis hakim atas tuduhan pembunuhan berencana. Antasari pun dijerat Pasal 55 Ayat (1) ke-1 juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-2 juncto Pasal 340 KUHP dengan ancaman maksimal hukuman mati. Kendati putusan yang dijatuhi majelis hakim sedianya lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yakni hukuman mati.

Hanya keluarga menjadi 'benteng hati' Antasari, karena di tengah carut marutnya kasus perselingkuhan yang dituduhkan kepadanya, sang istri Ida Laksmiwati tetap meyakini bahwa Antasari adalah seorang suami dan ayah yang baik dan bertanggungjawab bagi anak dan istrinya. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, hingga tahun berganti tahun menjalani hukuman di Lapas Klas 1A Tangerang. Sikap yang baik dari Antasari ternyata membuatnya mendapatkan remisi atau pengurangan masa hukuman. 

Sehingga akhirnya pintu kebebasan bersyarat bagi Antasari akan terbuka bertepatan pada Hari Pahlawan 10 November 2016 setelah ia menjalani proses asilimasi di kantor notaris di daerah Tangerang dengan gaji Rp3 juta per bulan. Hasil keringatnya itu pun tidak masuk kantong pribadi melainkan dimasukkan ke kas negara. Kepala Divisi Pemasyarakatan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Banten, Enny Purwaningsih mengatakan, Antasari merupakan satu dari sekian narapidana yang namanya masuk dalam daftar bebas bersyarat tanggal 10 November 2016. 

"SK tersebut sudah dikirim ke Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM dengan tembusan ke Kepala Lapas Klas 1A Tangerang," ujarnya. 

Dalam berbagai kesempatan, pria kelahiran Pangkalpinang itu sempat mengungkapkan akan menjadi pengajar di bidang hukum. Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan mantan Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan itu.

Sumber : okezone

Subscribe to receive free email updates: