Imam Masjid New York: Rusuh Tanjung Balai Jangan Selalu Warga Muslim yang Disalahkan

Dr Daud Rasyid
FAKTAMEDIA.NET - KETENANGAN warga Tanjung Balai pada Jumat malam lalu terusik, setelah salah seorang warga keturunan tidak terima dengan suara pengeras suara dari masjid (ada versi, perempuan warga keturunan itu masuk ke dalam masjid dan marah-marah) memicu terjadinya  kerusuhan bernuansa SARA.

Beberapa vihara dan kelenteng diserang dan dibakar warga yang terprovokasi oleh berita yang beredar. Tanjung Balai menjadi seperti lautan api akibat pembakaran tersebut.

Banyak pihak menyalahkan aksi anarki warga yang melakukan pembakaran rumah-rumah ibadah. Warga Muslim dianggap tidak toleran terhadap pemeluk agama lain.

Namun hipotesa seperti itu dikritisi oleh salah seorang warga asli Tanjung Balai yang juga seorang ustadz. Bagi beliau kerusuhan bernuansa SARA di Tanjung Balai Jumat malam lalu hanyalah puncak dari kemarahan warga.

“Jangan selalu warga disalahkan tanpa melihat apa masalah sebenarnya. Insiden Jumat malam lalu, saya menilai merupakan puncak kekesalan warga yang sudah dipendam selama bertahun-tahun terhadap sikap warga keturunan non Muslim,” ungkap Dr Daud Rasyid Sitorus kepada Islampos.com lewat saluran telepon langsung dari New York Ahad pagi kemarin (31/7/2016).

Sebagai putra daerah asli Tanjung Balai, Daud Rasyid sangat memahami tindakan anarkis warga dengan melakukan pembakaran rumah ibadah. Menurutnya bukan hanya sekali ini, warga keturunan yang non Muslim melakukan pelecehan terhadap mayoritas Muslim di Tanjung Balai.

Meskipun Tanjung Balai daerah yang multietnis, namun Muslim sampai sekarang merupakan warga mayoritas di sana, jadi setiap ada upaya yang dianggap menyentuh keberagamaan mereka, hal itu bisa memantik kemarahan, ungkap Daud Rasyid yang merupakan putra dari seorang Ustadzah terkemuka di wilayah itu.

“Intinya kasus di Tanjung Balai ini jangan dilihat secara sepihak saja yaitu warga Muslim membakar vihara atau kelenteng, tapi lihat juga akar permasalahnnya,” terang beliau.

Diakui oleh Daud Rasyid, masyarakat Muslim Tanjung Balai sangat toleran dan tidak bermasalah dengan etnis lain ataupun dengan agama lain. Dari dulu kehidupan di Tanjung Balai berlangsung dengan harmonis, namun kearoganan sikap warga keturunan Cina kepada pribumi karena mereka menguasai perekonomian menjadi api dalam sekam. Ditambah lagi kearoganan itu mulai menyerempet ke wilayah keyakinan umat Islam mayoritas di sana.

“Sebelumnya warga Muslim pernah menggelar aksi protes terkait berdirinya patung Buddha besar di Tanjung Balai. Menurut mereka, patung itu melecehkan mayoritas Muslim di Tanjung Balai. Mereka mengadu ke aparat terkait, malah warga Cina yang dimenangkan bahkan persoalan ini sempat dibawa ke Jakarta. Sampe ada seloroh mereka, sekarang Muslim Tanjung Balai shalatnya sudah menghadap patung karena posisi dibangunnya patung Buddha pas di sebelah Barat arah mata angin,” papar mantan anggota dewan Syariah Partai Keadilan ini.

Daud Rasyid juga memperingatkan terkait makin bertambahnya vihara di Tanjung Balai di tengah mayoritas umat Muslim serta bertambahnya pendatang gelap asal Cina di wilayah tersebut.

“Pertambahan vihara mencolok kali di sana ditambah lagi masuknya pendatang gelap asal Cina lewat jalur Tanjung Balai yang sempat heboh beberapa waktu yang lalu. Jadi bak kata pepatah, api dalam sekam begitulah Tanjung Balai sekarang. Sedikit pemantik bisa jadi kerusuhan SARA,” pungkas pria yang sekarang menjadi Imam Besar Masjid Al-Hikmah New York ini.

Sumber : islampos

Subscribe to receive free email updates: