Hindari Kemarahan Umat, Warga Meminta Polisi Bebaskan Pelaku Yang Dituding Sebagai Perusuh


FAKTAMEDIA.NET - Sejumlah elemen di Tanjung Balai, Sumatera Utara melakukan pertemuan untuk mengambil langkah advokasi menuntut dibebaskannya sejumlah warga yang dituding sebagai aktor dibalik pengerusakan dan pembakaran Vihara milik etnis Cina.

"Hari ini (Senin) kita sudah melakukan pertemuan yang dihadiri anggota DPRD, Kemensos, pemuka masyarakat, kepala lingkungan, DKM masjid, orang tua warga yang ditangkap, dan juga FUI Tanjung Balai yang mengawal kasus ini dari awal," ujar Sekretaris Forum Umat Islam (FUI) Tanjung Balai, Luthfi Ananda Hasibuan kepada Suara Islam Online, Senin malam (1/8/2016).

Dalam pertemuan itu, kata Luthfi, mereka bersepakat untuk mendamaikan persoalan dan meminta kepada pihak kepolisian membebaskan sejumlah warga yang ditangkap.

Luthfi menegaskan, jika polisi tidak segera membebaskan warga yang ditangkap itu dikhawatirkan kericuhan akan kembali berlanjut. "Biar tidak ada potensi kerusuhan lagi," jelasnya.

Saat ini, pasca pembakaran Vihara, warga Tanjung Balai masih terus memantau perkembangan dari beberapa pihak diantaranya kapolres yang masih menahan 12 orang warga untuk diintogerasi.

Seperti diketahui, terjadinya kerusuhan berawal dari sikap intoleran yang dilakukan seorang wanita etnis Cina bernama Meliana (41) bertempat tinggal di Jl Karya Kelurahan Tanjung Balai Kota I yang melakukan protes terhadap suara adzan di Masjid Al Maksum berada dekat rumahnya.

Sikap arogan Meliana membuat warga sekitar geram, akibatnya warga melampiaskan kemarahannya dengan mendatangi rumah Meliana. Tak lama kemudian informasi itu beredar luas di media sosial dan mengundang kemarahan warga lainnya. Setelah itu, sejumlah Vihara didatangi warga dari berbagai lokasi sehingga terjadilah pembakaran.

Sumber : suara-islam

Subscribe to receive free email updates: