AS Akhirnya Akui Pemimpin ISIS Adalah Bekas Tahanannya


FAKTAMEDIA.NET - Angkatan Darat Amerika Serikat (AS) untuk pertama kalinya mengakui bahwa pemimpin ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi, adalah mantan tahanan AS yang menghabiskan banyak waktu di penjara Abu Ghraib, di Irak.

Pengakuan militer AS itu terungkap dari catatan Freedom of Information Act yang dirilis Intercept. Baghdadi jadi tahanan di penjara militer yang dijalankan AS pada Februari hingga Oktober 2004.

Selama jadi tahanan AS, Baghdadi, tercatat dengan nama Ibrahim Awwad Ibrahim Ali Badri. Nomor seri tahanannya adalah  US9IZ-157911CI.

”Nomor urut-nomor urut interniran mantan tahanan al-Baghdadi dimulai dengan '157’,” kata juru bicara Angkatan Darat AS, Troy A. Rolan, Sr., dalam catatan yang dikutip Intercept, Jumat (26/8/2016).

Selama musim semi 2004, hanya beberapa minggu setelah al-Baghdadi ditahan di penjara Abu Ghraib, foto grafis sesi penyiksaan dan taktik penghinaan terhadap para tahanan di penjara rahasia AS itu bocor.

Pada tanggal 13 Oktober tahun 2004, al-Baghdadi dipindahkan ke Kamp Bucca, seperti halnya banyak tahanan Abu Ghraib lainnya.

Sejumlah laporan lain menyebut Baghdadi mendekam di Kamp Bucca kurang dari dua bulan. Dia kemudian “dibebaskan tanpa syarat” pada 9 Desember pada tahun yang sama.
Menurut laporan Reuters, status tahanan al-Baghdadi yang tercatat sebagai "interniran sipil” berarti tahanan yang memiliki hubungan dengan kasus terorisme namun belum ditangkap saat melakukan kegiatan tersebut.

Hanya 13 bulan setelah al-Baghdadi dibebaskan, pada Januari 2006, kelompok al-Qaeda yang dipimpin Abu Musab al-Zarqawi bersama kelompok radikal lain membangun “Dewan Syura Mujahidin”. Zarqawi kemudian tewas oleh serangan bom AS pada bulan Juni 2006.

Setelah kematian Zarqawi, “koalisi” Dewan Syura Mujahidin itu membuat nama baru yakni “Negara Islam Irak”. Kelompok ini memilih sarjana al-Baghdadi yang dikenal sebagai akademisi sebagai pemimpinnya.

Dalam perkembangannya, kelompok ini berkembang hingga ke Suriah menjadi kelompok Negara Islam Irak dan Suriah atau ISIS yang kemudian diubah lagi menjadi Islamic State.

Sumber : sindonews

Subscribe to receive free email updates: