Tenaga Kerja China Serbu Konawe, Rakyat Protes

Ilustrasi
FAKTAMEDIA.NET - Hari kedua Lebaran Idul Fitri 1437 H tanggal 7 Juli 2016, saya mudik di kampung halaman di Kendari – Sulawesi Tenggara dengan pesawat GA 604 H. Pesawat yang ditumpangi banyak sekali orang China. Mereka sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris, apalagi bahasa Indonesia.  Ketika transit di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, sebagian penumpang turun. Saya mengira mereka yang berjumlah sekitar 50 orang akan turun ke Makassar, ternyata tidak karena tujuan mereka ke Konawe, Sulawesi Tenggara.

Akan tetapi, mereka panik karena menduga akan dikenakan pembayaran. Ketika panik, mereka menyampaikan protes, tetapi pramugari tidak paham yang mereka ucapkan karena dalam bahasa China. Pramugari berusaha menjelaskan kepada mereka dalam bahasa Inggris, tetapi satu pun di antara mereka tidak ada yang paham bahasa Inggris. Untuk mengatasi masalah tersebut, dari dalam pesawat Garuda yang transit selama 45 menit di Bandara Sultan Hasanuddin, pramugari berkomunikasi melalui SMS ke bos mereka, dan bos mereka menjawab dalam bahasa China, dan mereka disuruh membacanya, dan keadaan di dalam pesawat menjadi tenang dan hening.

Pesawat Garuda yang ditumpangi, sempat ditunda penerbangannya ke Kendari sekitar 30 menit karena VVIP, yaitu Wapres JK juga mudik ke kampung halamannya di Makassar pada hari kedua lebaran Idul Fitri dan mau mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar.


Pabrik Feronikel Terbesar Di Bandara Halu Oleo Kendari, tenaga kerja dari China langsung dijemput, dan menurut informasi, mereka langsung dibawa menuju Paku Morosi Kabupaten Konawe, lokasi tempat dibangunnya smelter dan pabrik Feronikel terbesar di Indonesia. Di dalam pesawat GA 604 H, saya sempat bertemu Dr. Said Didu, Staf Khusus Menteri ESDM dan saya bertanya mau ke mana para tenaga kerja China. Said Didu menjelaskan bahwa di Konawe sedang dibangun smelter dan pabrik Feronikel terbesar di Indonesia – mengalahkan PT Aneka Tambang (Persero). Informasi tersebut sangat menggembirakan karena ada investor asing yang berinvestasi di kampung halaman saya, yang diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat di Kabupaten Konawe pada khususnya, Sulawesi Tenggara dan bangsa Indonesia pada umumnya.  Sebagaimana diketahui, Kabupaten Konawe, pada mulanya bernama Kabupan Kendari.

Ketika terbentuk Kota Kendari, ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara, dibentuk Kabupaten Konawe yang merujuk kepada nama Kerajaan Tolaki, yaitu kerajaan Konawe yang pernah berdiri di daratan Sulawesi Tenggara. Saat ini Kabupaten Konawe telah mekar menjadi empat kabupaten, yaitu Kabupaten Konawe, Kabupaten Konawe Selatan, Kabupaten Konawe Utara, dan Kabupaten Konawe Kepulauan. Menurut informasi yang disampaikan kepada saya saat mudik 7-12 Juli 2016 di Kendari, empat kabupaten tersebut mengandung banyak sumber daya alam (SDA), bahkan di seluruh daratan Sulawesi Tenggara.

Salah satu Kabupaten yang kaya sumber daya alam ialah Kabupaten Konawe, yang terletak di Desa Paku, Kecamatan Morosi, yang saat ini sedang dibangun beberapa smelter dan pabrik feronikel terbesar di Indonesia, dengan seluruh tenaga kerja didatangkan dari China. Begitu pula, seluruh peralatan untuk pembuatan smelter dan pabrik, diimpor dari China.

Diprotes Rakyat Kehadiran investor dari China, pada mulanya disambut positif, tetapi dalam perjalanannya dibenci dan dimusuhi rakyat setempat. Menurut informasi, pembangunan smelter dan pabrik feronikel tersebut sempat dihentikan selama tiga bulan karena protes keras dari rakyat Konawe karena pembangunan smelter dan pabrik Feronikel sama sekali tidak memberi manfaat bagi rakyat setempat.

Dalam protes tersebut, menurut informasi, sampai ada tenaga kerja dari China yang dipotong lehernya, tetapi hal tersebut ditutup dan dilarang untuk diberitakan oleh media. Saya diberitahu setelah kejadian itu, Pangdam Wirabuana yang berkedudukan di Makassar, sempat turun untuk mengatasi perlawanan rakyat terhadap tenaga kerja dari China, dan informasi dari lapangan yang belum dikonfirmasi, Jenderal TNI Purn. Moeldoko, Mantan Pangab TNI, kemudian ditunjuk menjadi Komisaris Utama perusahaan yang berinvestasi di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.

Sejak itu, protes rakyat terhenti dan pembangunan smelter dan pabrik feronikel kembali dilaksanakan dengan tidak ada perbaikan sama sekali, yaitu semua tenaga kerja dan peralatan untuk pembangunan smelter dan pabrik feronikel diimpor seluruhnya dari China melalui kapal laut dan langsung sandar di dermaga yang dibangun oleh peruasahaan.

Kompleks yang sedang dibangun smelter dan pabrik feronikel tertutup oleh siapa pun dengan tingkat keamanan yang amat tinggi. Rakyat Tidak Peroleh Apa-apa Sebagai sosiolog dan orang yang lahir dan besar di Konawe, Sulawesi Tenggara, saya amat prihatin dengan investasi model semacam itu karena sejatinya kehadiran investor asing harus memberikan peningkatan kesejahteraan rakyat di daerah.

Namun, berdasarkan informasi yang disampaikan kepada saya dan diamini oleh Walikota Kendari, DR. Ir. Asrun, M. Sc ketika saya bersilaturrahim di kediamannya, pembangunan smelter dan pabrik feronikel di Kabupaten Konawe tidak memberi manfaat apa-apa kepada rakyat setempat pada khususnya, rakyat Sulawesi Tenggara dan bangsa Indonesia pada umumnya. Rakyat mendapat manfaat ekonomi dan sosial kalau dilibatkan dalam setiap investasi di daerah mereka untuk bekerja. Dengan bekerja di pabrik yang dibangun, mereka mendapatkan penghasilan (income). Dengan penghasilan yang diperoleh, mereka berbelanja dan bisa menyekolahkan anak-anak mereka. Dengan demikian, ekonomi di daerah tumbuh dan berkembang. Dampak positifnya terjadi pertumbuban ekonomi, tercipta pemerataan dan keadilan serta mengurangi pengangguran dan kesenjangan sosial ekonomi.

Amat disayang hadirnya investasi China di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, tidak memberi manfaat apa-apa bagi peningkatan kesejahteraan rakyat sesuai tujuan Indonesia merdeka yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945. Semoga tulisan ini sebagai oleh-oleh dari mudik di Kendari, memberi informasi kepada mereka yang sedang memegang kekuasaan bahwa investasi di daerah dan di Indonesia harus ditujukan untuk memajukan kesejahteraan rakyat. Allahu a’lam bisshawab

Subscribe to receive free email updates: