JANGAN HARAP BERITA BERIKUT INI AKAN KALIAN DAPATI DARI MEDIA SEKULER.


FAKTAMEDIA.NET - Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian mengintruksikan bawahannya agar pemakaman Santoso tidak boleh gaduh dan digelar secara heroik. Selain itu, mantan Kadensus 88 itu juga menghimbau masyarakat agar tidak menyambut jenazah Santoso bak pahlawan. Karena menurut Tito, Santoso adalah seorang penjahat.

Namun ternyata realita di lapangan berbicara sebaliknya. Sebelum jenazah Santoso tiba dirumah istrinya di Desa Bakti Agung dan dirumah orang tuanya di Desa Landangan, Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso, ribuan warga Poso yang terlihat seperti lautan manusia telah siap menyambut kedatangan jenazah Santoso.

Bahkan, warga secara gotong royong juga ikut membantu keluarga besar Santoso memasang tenda, dan menyiapkan segala sesuatunya untuk proses pemakaman sosok yang disebut Amerika Serikat (AS) dan pemerintah Indonesia sebagai tokoh Daulah Islam/Islamic State (IS/ISIS) di Indonesia itu.

Selain itu, sebuah spanduk berukuran cukup besar bertuliskan “Selamat datang Syuhada Poso, Santoso alias Abu Wardah” terlihat terpasang di tempat pemakaman dan sekitar rumah keluarga besar Santoso.

“Spanduk menyambut jenazah Santoso tersebut yang masang warga sini. Mereka juga membantu keluarga untuk persiapan pemakaman,” kata Robby, salah satu warga Poso kepada Manjanik pada Sabtu (23/7/2016) siang via pesan singkat.

“Meski polisi menyebut Santoso sebagai penjahat, tapi hari ini kita bisa lihat lautan manusia dan warga Poso menyambut Santoso seperti pahlawan karena mereka tahu apa yang sudah dilakukan Santoso untuk membantu warga Poso saat dibantai massa dan laskar Kristen,” jelasnya.

“Jadi yang penjahat dan teroris itu siapa sebetulnya? Teroris sebetulnya yaa Kristen radikal yang dulu bantai warga Muslim Poso dan Densus yang dengan brutalnya nangkapi dan bunuhi aktivis Muslim itu,” tandas Robby.

Sumber : manjanik

Subscribe to receive free email updates: