Bagaikan Bom Waktu, Kerusuhan Anti Cina Siap Meledak di Indonesia


FAKTAMEDIA.NET - Pada 11 Mei 2014, terjadi gelombang demonstrasi besar-besaran anti etnis Cina di Vietnam. Rakyat Vietnam bertekad mengusir seluruh golongan pendatang Cina dari negerinya. Si kulit kuning dan mata sipit itu dianggap sebagai parasit bahkan mulai berani menjajah Vietnam dengan kekuatan ekonominya. Seolah-olah mereka ingin menjadikan Vietnam sebagai provinsi baru Cina atau ingin menjadikan Vietnam seperti Singapura kedua.

Kerusuhan yang menelan puluhan korban jiwa dan ratusan etnis Cina luka-luka itu, mendorong pemerintahan di Beijing dibawah Presiden Xi Jin Ping bertindak cepat untuk menyelamatkan warga keturunan Cina di Vietnam. Sebanyak lima kapal angkut dikirim dari pelabuhan Hainan, dimana setiap kapal bisa mengangkut 3.000 warga keturunan Cina di Vietnam.

Tidak hanya lewat jalur laut, Beijing juga memberlakukan “jembatan udara” untuk mengangkut warga keturunannya dari Hanoi dan Saigon. Akhirnya ribuan warga keturunan Cina berhasil dievakuasi dalam waktu singkat melalui jalur laut dan udara.

Sebagai dampak dari kerusuhan itu, banyak perusahaan yang dikelola dan dimiliki warga etnis keturunan Cina di Vietnam dijarah, dibakar dan dirusak para demonstran. Sebab mereka menganggap keturunan Cina sudah mulai menguasai bahkan menjajah negaranya, meski baru pada sektor ekonomi, belum berlanjut ke sektor politik.

Ketika dimintai komentarnya, apakah kerusuhan anti etnis Cina di Vietnam tahun 2014 lalu bisa terjadi di Indonesia dimasa mendatang, mantan Menteri Keuangan era Orde Baru, Fuad Bawazier, secara diplomatis menjawab bahwa hal itu dikarenakan adanya jurang pemisah antara non pri (etnis Cina) dengan pribumi (Vietnam).

“Pengusiran terhadap golongan Cina yang terjadi tahun 2014 lalu di Vietnam, karena adanya jurang pendapatan dan kekayaan yang tajam antara pribumi (Vietnam) dengan warga Cina (pendatang), sementara mereka (warga Cina) kurang bisa membawa diri dalam kehidupaan sehari-hari, sehingga melahirkan kecemburuan dan kebencian , apalagi mereka dinilai sering main mata dengan negara leluhurnya (Cina),” tegas Fuad Bawazier, Senin (14/3) kepada sharia.co.id.

Memang salah satu pemicu gerakan anti Cina di Vietnam adalah tegangnya hubungan kedua negara dalam memperebutkan penguasaan atas Kepulauan Spratley di Laut Cina Selatan, yang sama-sama diklaim kedua negara dan lima negara lainnya (Malaysia, Brunei, Filipina, Taiwan dan Thailand).

Kerusuhan Anti Cina

Kerusuhan anti Cina, terakhir meledak di Indonesia adalah pada awal reformasi tahun 1998 lalu, kerusuhan itu tidak hanya menimbulkan korban jiwa etnis Cina, tetapi juga sejumlah aset ekonomi mereka dijarah, dibakar dan dirusak para demonstran. Kerusuhan itu menandai tumbangnya rezim Orde Baru yang telah berkuasa selama 32 tahun.

Namun anehnya, dengan munculnya era Reformasi, etis keturunan Cina justru diuntungkan terutama sejak era kepemimpinan Presiden Gus Dur, dimana Imlek dijadikan hari libur nasional, kebudayaan Cina dihidupkan kembali seperti Barongsai dan Liong, sementara media massa berbahasa Cina diperbolehkan terbit kembali. Bahkan satu stasiun televisi swasta dalam salah satu siaran beritanya memakai bahasa Mandarin.
“Pak Harto dulu bukan anti Cina, ketika melarang ini itu yang berbau Cina seperti Barongsai dan sejenisnya, tetapi semata mata untuk menghindari bentrok sosial yang berbau SARA. Pak Harto menginginkan agar non pri benar-benar membaur dengan pribumi,” ungkap Fuad Bawazier yang dikenal dekat dengan Presiden RI kedua tersebut.

Jika dibandingkan dengan Vietnam, penguasaan pereknomian nasional Indonesia oleh keturunan Cina jauh lebih parah bahkan sudah dalam taraf membahayakan kedaulatan bangsa dan negara, sehingga seolah-olah seperti pribumi (Indonesia) dijajah non pri (etnis keturunan Cina). Sampai sekarang penguasaan perekonomian nasional oleh etnis Cina sudah mencapai 70 persen, dan dari waktu ke waktu prosentasenya akan terus mengalami kenaikan secara signifikan.

Meski penguasaan perekonomian oleh golongan keturunan Cina cukup membahayakan, namun ada yang lebih membahayakan lagi bagi kedaulatan nasional, yakni upaya mereka untuk menguasai perpolitikan nasional. Setelah merasa yakin mampu menguasai ekonomi nasional, mereka sekarang mulai masuk ke kancah politik melalui Pilkada, Pileg bahkan tidak menutup kemungkinan nanti Pilpres.

Jika penguasaan ekonomi dan politik dari golongan keturunan Cina tidak segera dihentikan oleh pemerintahan Jokowi-JK, maka kerusuhan anti Cina sewaktu-waktu bisa meledak di Jakarta dan akhirnya akan menyebar ke seluruh Indonesia. Sebab ini bagaikan bom waktu yang siap meledak kapan saja jika disulut sumbunya.

Maka tidaklah mengherankan jika sekarang banyak anggota legislatif dari tingkat II, I bahkan Pusat berasal dari etnis keturunan Cina. Sekarang Pilkada berusaha mereka kuasai melalui para tokohnya, seperti Pilkada Tangerang Selatan, Pilkada Kalimantan Utara dan Pilkada DKI Jakarta yang akan berlangsung pada 2017 dan beberapa daerah lainnya.

Kalau pada Pilkada Tangsel dan Kaltara mereka gagal menempatan calonnya sebagai Walikota dan Gubernur, maka mereka berharap pada Pilkada DKI nanti calon incumbent, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) akan kembali berkuasa sebagai Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022. Setelah itu Ahok diharapkan berkuasa kembali periode 2022-2027.

Namun ditengah jalan, Ahok akan didesak untuk menjadi calon Presiden RI pada Pilpres 2024, dan diharapkan terpilih menjadi Presiden RI periode 2024-2029. Sehingga untuk pertama kalinya Ahok akan tercacat dalam sejarah sebagai Presiden RI pertama dari etnis keturunan Cina, sebagaimana Lee Kwan You sebagai pemimpin dari etnis Cina pertama di tanah Melayu (Singapura).

Jika skenario licik sekaligus jahat tersebut berjalan mulus, maka dibawah kepemimpinan Ahok selama 10 tahun sebagai Gubernur, DKI Jakarta akan diubah menjadi Singapura kedua. Sedangkan dibawah kepemimpinan Ahok selama 10 tahun sebagai Presiden RI, maka negara induknya Republik Rakyat Cina (RRC) yang berfaham Komunis akan menjajah Indonesia dan menjadikannya sebagai salah satu koloninya sekaligus provinsinya seperti Hongkong dan Macau.

Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah, beranikah bangsa Indonesia yang dikenal heroik dan berhasil mengusir penjajah Belanda, kembali mengusir etnis keturunan Cina sebagai penjajah ekonomi dan politik dari bumi Indonesia yang tercinta ini, sebagaimana rakyat Vietnam yang sukses mengusir pendatang etnis keturunan Cina dari negaranya?

penulis: Abdul Halim

Sumber : sharia

Subscribe to receive free email updates: