Agum Gumelar: Kita Yang Salah Karena Tempo Hari Memilih Jokowi


FAKTAMEDIA.NET - Pemerintahan Jokowi & JK sudah lebih dari setahun berkuasa, namun tak banyak kemajuan yang dicapai, setidaknya demikian dikatakan oleh para pengamat dan pakar. Di bidang ekonomi, diakui, tak ada perubahan yang signifikan. Banyak target yang tak tercapai. Saat ini Jokowi bahkan diambang kegagalan dalam pencanangan target swasembada pangan.

Dikumandangkan sejak awal 2015, beberapa bulan setelah resmi memimpin rezim Kabinet Kerja, Jokowi mengumandangkan pencapaian swasembada pangan maksimal dalam tempo tiga tahun. Artinya, awal 2018 Indonesia benar-benar sudah berhasil swasembada pangan, memenuhi kebutuhan pangan dari dalam negeri sendiri. Tidak perlu impor.

Tak banyak yang percaya target tiga tahun swasembada tersebut bisa dicapai. Pasalnya, statistik dari impor beberapa kebutuhan pangan pokok, masih tinggi. Kalau mau berhasil swasembada berarti angka impor makin lama harus makin mengecil, bukannya malah kian membesar.

Satu-satunya keberhasilan Jokowi sekarang ini adalah, bagaimana mantan walikota Solo ini membekukan peranan otoritas sepakbola nasional alias PSSI. Memang bukan langsung Jokowi yang membekukannya, akan tetapi melalui Menpora Imam Nahrawi.

Sanksi pembekuan terhadap PSSI yang dilakukan oleh Imam Nahrawi sejak 17 April 2015 itu, seperti kita ketahui, efektif untuk membuat FIFA menjatuhkan hukuman pada PSSI. Sebagai pemilik sepakbola global FIFA menentang segala bentuk intervensi dari pemerintah.

Apa yang dilakukan Jokowi pada sepakbola tentu menumbuhkan kekecewaan pada sebagian besar rakyat Indonesa. Mayoritas dari masyarakat Indonesia sudah menjadikan sepakbola sebagai katarsis. Dalam konteks positifnya, mereka menjadikan kompetisi sepakbola sebagai sebuah hiburan yang membuat hati dan pikiran senang. Ketiadaan kompetisi sekarang ini tentu membuat mereka kesal.

Dengan memusuhi PSSI Jokowi jelas-jelas merusak citranya sendiri. Sebagian besar dari pendukungnya kini sudah berbalik. Kalau dulu mereka suka sekarang benci. Mungkin tak terkecuali juga Agum Gumelar, mantan ketua umum PSSI, KONI Pusat dan kini menjadi ketua dewan kehormatan PSSI. Semasa Pilpres 2014 Agum  Gumelar menunjukkan simpatinya kepada Jokowi. Bukan justru kepada Prabowo Subiyanto, yuniornya dalam hirarki Danjen Kopassus.

Padahal saat kampanye Pilpres 2014 itu hanya Prabowo Subiyanto yang bicara blak-blakan soal olahraga, termasuk kesiapannya untuk mendukung PSSI dalam mencalonkan diri sebagai tuan rumah Piala Asia atau Piala Dunia, seadainya dia terpilih menjadi presiden 2014-2019. Jokowi boro-boro bicara soal sepakbola. Masalah pembinaan olahraga pun tak pernah dia singgung.

Kini, bisa jadi, Agum Gumelar menyesali pilihannya dalam memproteksi Jokowi pada masa kampanye Pilpres 2014 itu. Pasalnya, Jokowi emoh menemuinya untuk sekaligus mendengarkan curhatannya terkait pembekuan yang dilakukan terhadap PSSI.

“Mungkin bukan Jokowi yang salah. Justru kita yang salah. Kenapa tempo hari harus memilih Jokowi,”begitu kira-kira pernah disampaikan oleh Agum Gumelar.*

Sumber : kebenaran.info

Subscribe to receive free email updates: