Pertumbuhan Ekonomi DKI Era Ahok Ternyata Terus Merosot Dibanding Era Foke


FAKTAMEDIA.NET - Gubernur DKI Jakarta, Ahok, hanya berprestasi dimata pendukung “buta” Ahok dan media massa memihak dan milik dominan konglo Cina. Ahok hanya sibuk wawancara di media massa dan nafsu besar pencitraan utk salurkan sikap ambisius kekuasaan lanjut sbg Gubernur DKI.

Di bawah Ahok perekonomian DKI tunjukkan indikasi “menyedihkan”. Rakyat nganggur kian banyak. Rakyat miskin kian banyak. Ketimpangan kaya dan miskin kian melebar. Pertumbuhan ekonomi terus merosot bahkan gagal mencapai target sesuai Perda DKI Jakarta No.2 Tahun 2012. Data, fakta dan angka di bawah ini membuktikan indikasi menyedihkan ini.

Pertumbuhan ekonomi (economic growth) adalah proses perubahan kondisi perekonomian secara berkesinambungan menuju keadaan lebih baik selama periode tertentu. Pertumbuhan ekonomi dapat diartikan juga sebagai proses kenaikan kapasitas produksi suatu
perekonomian diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan. Suatu Daerah dikatakan mengalami pertumbuhan ekonomi jika terjadi peningkatan pendapatan riil di daerah tsb.

Pembangunan ekonomi tak dapat lepas dari pertumbuhan ekonomi . Pembangunan ekonomi mendorong pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, pertumbuhan ekonomi memperlancar proses pembangunan ekonomi. Adanya pertumbuhan ekonomi merupakan indikator “keberhasilan” atau “kegagalan” suatu Rezim dalam melaksanakan pembangunan ekonomi.

DKI Jakarta di bawah Rezim Ahok, ternyata pertumbuhan ekonomi tidak mencapai standar atau target 7 % seperti digembor-gemborkan saat kampanye Pilkada DKI 2012 lalu. Data, fakta dan angka berbicara,pertumbuhan ekonomi terus merosot, hanya mampu mencapai jauh di bawah 6 % ! Ahok “gagal” melaksanakan pembangunan ekonomi.

Sebagai pembanding, pada Era Foke pertumbuhan ekonomi relatif tinggi: 6,44 % (2007), 6,22 % (2008), 5,1 (2009), 6,50 (2010), 6,77 % (2011), dan 6,53 % (2012). Rata-rata pencapaian pertumbuhan ekonomi Era Foke di atas 6 %. Bagaimana Era Ahok?

Jelas terus merosot jauh di bawah era Foke. Ahok hanya mampu mencapai 6,11 % (2013), 5,9 % (2014), 5,88 % (2015), dan 5,62 % Triwulan I 2016). Dapat dinilai, rata-rata pencapaian Ahok di bawah 6 %. Hanya tahun 2013, Ahok bisa raih di atas 6 %. Itupun mungkin sisa hasil kerja Foke pada 2012. Intinya, di bandingkan era Foke, pertumbuhan ekonomi era Ahok terus merosot.

Di lain fihak, Ahok dapat dinilai “gagal” mencapai target pertumbuhan ekonomi berdasarkan Perda No. 2 Tahun 2012 ttg Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Prov. DKI Jakarta 2013-2017. Penetapan Indikator Kinerja Daerah terhadap Capaian Kinerja Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Prov. DKI, “target” pencapaian setiap tahun 6,90 % (2013), 7,00 % (2014), 7,10% (2015), 7,20 % (2016), dan 7,30 % (2017). Sebelumnya, tahun 2012 di Era Foke pertumbuhan ekonomi mencapai 6,53 %.

Atas target di atas, Ahok tak mampu, dan mencapai hanya 6,11 % (2013), merosot 5,9 % (2014), terus merosot 5,88 (2015) dan 5,62 % (Triwulan I 2016), dan diperkirakan 2016 tetap di bawah 6,0 %. Artinya, Ahok telah gagal memenuhi janji kampanye dan target sesuai RPJMD Prov. DKI Jakarta 2013-2017.

Kesimpulan, pertumbuhan ekonomi DKI era Ahok terus merosot dibanding era Foke. Di lain fihak, era Ahok gagal membangun ekonomi DKI karena pertumbuhan ekonomi tidak mencapai target sesuai Perda RPJMD Prov.DKI. Target pertumbuhan ekonomi DKI rata-rata di atas 7 %, sedangkan Ahok hanya mampu buat di bawah 7 %, bahkan di bawah 6 % seperti tahun 2014, 2015 dan juga diperkirakan 2016. Ahok tak mampu mengatasi terus merosot pertumbuhan ekonomi. Ia juga gagal mencapai target pertumbuhan ekonomi sesuai Perda DKI No. 2 Tahun 2012. Ketidakmampuan dan kegagalan Ahok ini adalah salah satu alasan mengapa Ahok tidak layak lanjut sebagai Gubernur DKI dalam Pilkada DKI 2017 mendatang.

Oleh MUCHTAR EFFENDI HARAHAP (Ketua Dewan Pendiri NSEAS, Network for South East Asian Studies

Subscribe to receive free email updates: