Mengapa Banyak Mantan Jenderal Ogah Gabung Ke Prabowo, Siapa Yang Merakyat, Jokowikah Atau Prabowokah?


FAKTAMEDIA.NET - Assalamualaikum Wr Wb
Kita tes logika yuk……antara dua pelayan rakyat ini siapakah yg benar benar tulus dan hebat.

He he he Mengapa Banyak Mantan Jenderal Ogah Gabung Ke Prabowo, Siapa Yang Merakyat, Jokowikah Atau Prabowokah.



Tahukah Anda
Ada pertanyaan umum :”mengapa banyak mantan Jenderal tidak suka gabung pada Prabowo, terutama kalangan mantan Jenderal non Muslim, masalahnya mereka sebenarnya tentang SDM mereka, yang ternyata tidak mampu menyaingi kedahsyatan Sumber Daya Manusia Prabowo Subianto. Terutama non Muslim, mereka yang tidak akan tenang dengan kebangkitan seorang Prabowo, apalagi antara mereka dan Prabowo sering konflik, selama Prabowo masih mengabdi sebagai prajurit.
Pikiran kotor mereka adalah, pantaskah seorang Prabowo yang pernah menjadi bawahan saya, yang diperintah saya, dan pernah saya mutasi kebogor atau dipecat dengan hormat oleh BJ Habibi dengan status pensiun, tiba tiba melangkahi kepala saya mau jadi presiden, lalu mau ditaruk di mana muka saya, bagaimana nasib saya, anak saya dan posisi saya kedepan ?. itulah gundah gulana para mantan Jenderal yang menjadi atasan Prabowo, tak akan pernah rela dirinya dipimpin seorang Prabowo.
Kalau diterjemahkan pada bahasa rakyat, Jokowikah yang suara rakyat, atau Prabowo ?. sedangkan dukungan mantan mantan jenderal diarahkan pada Jokowi, mereka yang merasa tak punya muka dengan kemampuan Prabowo, semuanya bergabung dengan Jokowi atau PDIP, lalu siapa sebenarnya yang suara rakyat. Jokowikah dengan sejumlah besar mantan Jenderal yang bergabung di dalam, atau prabowo yang memang merakyat, yang didukung oleh rakyat.
Masyarakat bisa menilai dan birsikap peka atas Jokowi dan Prabowo, siapa diantara kedua tokoh yang memang mendapat dukungan rakyat, Jokowikah, Prabowokah. Orang yang cerdas bisa membaca siapa di balik Jokowi, ada mantan panglima Jenderal Wiranto, ada Luhut panjaitan dan beberapa mantan jenderal lainnya yang berada dibelakang calon PDIP.
Mantan Mantan Jenderal Pendukung PDIP Atau Jokowi.
Kalau bukan lelucon PDIP mengusik Prabowo, maka yang lebih dekat dengan pelawak mantan mantan Jenderal yang tak punya dukungan rakyat, ramai ramai hijrah ke PDIP, juga menotok jalan Prabowo, agar tidak naik ke Kursi satu, soalnya dimata mereka akan menjadi alamat buruk, jenderal jenderal dulu yang pernah menjadi atas Prabowo bisa saja tak henti di rundung bara panas yang membakar hatinya. Mereka diantaranya
1.Ryamizard Ryacudu (menantu mantan wapres Try Sutrisno-agen Benny untuk persiapan bila Presiden Soeharto mangkat).
2. Agum Gumelar-Hendropriyono (dua malaikat pelindung/bodyguard Megawati yang disuruh Benny Moerdani)
3.Andi Widjajanto (anak Theo Syafeii)
4.Fahmi Idris (rumahnya adalah lokasi ketika ide Peristiwa 27 Juli 1996 dan Kerusuhan Mei 1998 pertama kali dilontarkan Benny Moerdani
5.Sutiyoso;
6.Wiranto [Lho, Wiranto anak buah Benny Moerdani? Benar sekali, bahkan Salim Said dan Jusuf Wanandi mencatat bahwa Wiranto menghadap Benny Moerdani beberapa saat setelah dilantik sebagai KSAD pada Juni 1997. Saat itu Benny memberi pesan sebagai berikut: “Jadi, kau harus tetap di situ sebab kau satu-satunya orang kita di situ. Jangan berbuat salah dan jangan dekat dengan saya sebab kau akan dihabisi Soeharto jika dia tahu.”
(Salim Said, halaman 320)]
Ini menunjukkan betapa seorang Prabowo [prabu] memang termasuk prajurit teraniaya dan terfitnah sejak meniti karir sebagai orang militer. Setelah di lempar oleh LB Murdani di masa kejayaanya ke bogor sebagaimana kisah Kivlan Zein, karena membocorkan rahasia tentang LB Murdani yang akan mengganti kedudukan Presiden, juga Prabowo dianggap corong pemfitnah olehnya. Tidak berhenti pada sikap LB Murdani itu saja, tetapi juga LB Murdani pernah menyerahkan daftar ABRI hijau ketangan Wiranto untuk segera di tindak. Untuk membuktikan wiranto anak buah LB Murdani adalah sebagai berikut , dalam Memoirnya, Jusuf Wanandi menceritakan bahwa pasca jatuhnya Soeharto, Wiranto menerima dari Benny Moerdani daftar nama beberapa perwira yang dinilai sebagai “ABRI Hijau”, dan dalam sebulan semua orang dalam daftar nama tersebut sudah disingkirkan Wiranto.
Selain itu tiga fakta yang menguatkan kesimpulan kelompok Benny Moerdani ada di belakang Kerusuhan Mei 98 adalah sebagai berikut:
1. Menjatuhkan lawan menggunakan “gerakan massa” adalah keahlian Ali Moertopo (guru Benny Moerdani) dan CSIS sejak Peristiwa Malari di mana malari meletus karena provokasi Hariman Siregar, binaan Ali Moertopo (lihat kesaksian Jenderal Soemitro yang dicatat oleh Heru Cahyono dalam buku Pangkopkamtib Jenderal Soemitro dan Peristiwa 15 Januari 74 terbitan Sinar Harapan).
2. Menurut catatan TGPF Kerusuhan Mei 98 penggerak lapangan adalah orang berkarakter militer dan sangat cekatan dalam memprovokasi warga menjarah dan membakar. Ini jelas ciri-ciri orang yang terlatih sebagai intelijen, dan baik Wiranto maupun Prabowo adalah perwira lapangan tipe komando bukan tipe intelijen, dan saat itu hanya Benny Moerdani yang memiliki kemampuan menggerakan kerusuhan skala besar karena dia mewarisi taktik dan jaringan yang dibangun Ali Moertopo (mengenai jaringan yang dibangun Ali Moertopo bisa dibaca di buku Rahasia-Rahasia Ali Moertopo terbitan Tempo-Gramedia).
Lagipula saat kejadian terbukti Benny Moerdani sedang rapat di Bogor dan ada laporan intelijen bahwa orang lapangan saat kerusuhan 27 Juli 1996 dan Mei 98 dilatih di Bogor!!!
3. Alasan Megawati setuju menjadi alat Benny Moerdani padahal saat itu keluarga Soekarno sudah sepakat tidak terjun ke politik dan alasan Benny Moerdani begitu menyayangi Megawati mungkin adalah karena mereka sebenarnya pernah menjadi calon suami istri dan Soekarno sendiri pernah melamar Benny, pahlawan Palangan Irian Jaya itu untuk Megawati, namun kemudian Benny memilih Hartini wanita yang menjadi istrinya sampai Benny meninggal (Salim Said, halaman 329).
Berdasarkan semua fakta dan uraian di atas maka kiranya sudah tidak bisa dibantah bahwa alasan Kelompok Benny Moerdani, dalang Peristiwa 27 Juli 1996 dan Kerusuhan Mei 1998 ada di belakang Jokowi-JK dengan mengorbankan keutuhan partai masing-masing (PDIP, Hanura, Golkar) untuk melawan Prabowo adalah dendam kesumat yang belum terpuaskan sebab Prabowo menjadi penghalang utama mereka ketika mencoba mendeislamisasi Indonesia. [hudzaifah/Berric Dondarrion/voa-islam.com]
Berdasarkan catatan tersebut nyatalah, kalau JOKOWI BUKAN PERWAKILAN RAKYAT, tetapi wakil para jenderal yang putus asa, terlebih LBMurdani pada saat reformasi, langsung mendaftarkan dirinya sebagai anggota PDIP. Karena jelas sekali kalau Prabowo yang jadi Presiden, sudah pasti adalah rakyat semata yang mendukung, bukan permainan mantan jenderal yang gerah dirumah, sehingga iseng iseng member dukungan pada Jokowi, paling tidak sebagai obat penenang, agar Probowo tak jadi Presiden. Disini jelaslah kalau Prabowolah yang teraniaya selama di militer dan sekarang bukan “Jokowi yang menjadi Koto loncat dan tak jelas karyanya untuk bangsa.
Masihkan kitan akan berpikir “Jokowi itu yang merakyat” padahal sudah jelas, kalau seorang “jokowi” menjadi gantungan kunci para jenderal.
Lihat lagi fakta Jokowi, sekutunya bukanlah rakyat tetapi Negara Negara asing dan aseng yang mencari hidup di negeri ini. Selamat cerdas memahamkan kedua pelayan rakyat, siapa sebanarnya yang tidak merakyat.
Selamat menebak kawan….

Subscribe to receive free email updates: