Lebih Baik Menjadi Pemulung daripada Korupsi


FAKTAMEDIA.NET - MENDIANG Presiden Ke-4 RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur pernah punya anekdot yang tajam bagi kepolisian di Republik ini. Ia menyebut, hanya ada tiga polisi jujur di Indonesia, yaitu patung polisi, polisi tidur, dan satu lagi Hoegeng Imam Santosa (mantan Kapolri).

Jika kini masih hidup, kiai besar Nahdlatul Ulama itu mungkin akan menambahkan nama Seladi di anekdotnya.

Tidak ada yang luar biasa pada Brigadir Kepala Seladi, yang tampak legam dan lusuh akibat terbakar matahari, laiknya polisi lalu lintas senior lainnya. Namun, ada kesederhanaan pada kerut di pojok luar matanya saat tersenyum, dan pada saat bertutur menerangkan dirinya.

Penampakan sederhana macam itu akan sangat pas jika melihat foto dirinya di antara tumpukan sampah plastik. Ya, dia memang pemulung, yang sekaligus polisi. Profesi pemungut sampah itu dijalaninya sejak 2004 hingga kini, demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, satu istri dan tiga anak.

Ia melakukan itu di sela-sela piket dinas, yang mulanya dilakukan di sekitar lingkungan kerjanya di Polresta Malang, Jawa Timur. Karena ada pihak yang hendak mengambil lahannya, ia pun berpindah ke tempat lain. Tak gengsi, ia bergelut dengan bau yang menghasilkan gelontoran rupiah itu.

Bukannya tidak paham dengan cara mencari uang yang lazim dilakukan rekan-rekan seprofesinya, terutama di kalangan lalu lintas, yaitu menerima suap untuk pengurusan SIM, STNK, dan surat kendaraan lainnya. Pria kelahiran Dampit, Malang, 58 tahun lalu, itu hanya enggan menerimanya.

"Enam belas tahun di dinas, saya dan keluarga terlatih tidak menerima suap. Baik itu makanan, minuman, uang, kue, kalau terkait dengan SIM (dan surat kendaraan) nggak! Lebih nikmat jadi pemulung daripada lain-lainnya. Mudah, seperti toko emas. Begitu diambil, begitu dijual," cetus Seladi, yang berdinas di Satuan Penyelenggara Administrasi (Satpas) SIM, di Jalan Dr Wahidin, Kota Malang, saat bicara di Gedung DPR, Jakarta, Senin (23/5).

Ketua DPR Ade Komarudin menyatakan, kisah nyata Seladi yang menolak 'penghasilan tambahan' di dinasnya ini mesti jadi insipirasi bagi anggota Polri, dan juga aparatur negara lainnya, dalam memperjuangkan kejujuran di lingkungannya dan berpegang pada etos kerja.

Baginya, Seladi setidaknya sedikit memperluas cakupan pandangan masyarakat soal kejujuran anggota Polri, berdasarkan anekdot Gus Dur itu. Sebab, selama ini anggota Polri manusia nyata yang dipandang baik cuma sosok Hoegeng, Kapolri ke-5.

"Hari ini ada tambah satu, Seladi, dan semoga ada tambah lagi nanti," ucap Ade.

Ade juga menyinggung soal gaji anggota Polri yang saat ini dianggap kurang mampu mencukupi kebutuhan keluarga. Ia pun mendorong rencana peningkatan gaji dan tunjangan Korps Bhayangkara dengan sejumlah syarat. Untuk saat ini, ia mendorong para pegawai untuk berwirausaha.

"Kalau sekarang (naik gaji) tidak mungkin. Keuangan negara sedang sulit. Kalau nanti sudah bagus, gaji mereka bisa kita dorong untuk ditingkatkan," cetusnya.

Ketua Komisi III DPR Bambang Soesatyo pun tidak segan menyodorkan bantuan kepada Seladi lewat dorongan kepada Polri agar anak pertamanya bisa lolos ujian anggota Polri, serta menyerahkan gajinya dari Juni hingga Desember ke rekening Seladi. Baginya pula, kisah Seladi itu seolah jadi oase di saat polemik isu perpanjangan masa jabatan Kapolri Jenderal Badrodin Haiti.

Lalu, apakah dengan mencuatnya kisah Seladi ke tingkat nasional ini membuat para petinggi Polri tergerak untuk jujur, setidaknya dalam hal asal-usul harta kekayaannya? Mimpi... (Kim/OL-5)

Sumber : mediaindonesia

Subscribe to receive free email updates: