Dan Ahok Pun Sewot, Membahayakan Presiden Jokowi?


FAKTAMEDIA.NET - Gara-gara berita Koran Tempo edisi Rabu, 11 Mei 2016, siang tadi (Jumat 13 Mei 2016) Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, sewot.

Ahok bahkan berencana menggugat PT Agung Podomoro dan Koran Tempo ke pengadilan. Maklumlah, berita Koran Tempo yang ditulis redaktur Koran Tempo Anton Aprianto itu memang sangat peka.

Dalam berita itu, Koran Tempo menyebutkan, bahwa PT Agung Podomoro Land membiayai penggusuran kawasan prostitusi Kalijodo di Penjaringan, Jakarta Utara, akhir Februari lalu, sebesar Rp 6 miliar. Dana itu digunakan untuk mengerahkan 5.000 personel gabungan dari Satuan Polisi Pamong Praja, Polisian, dan TNI untuk menggusur wilayah yang bersisian dengan Kanal Banjir Barat.

Menurut Koran Tempo, keterlibatan PT Agung Podomoro dalam penertiban Kalijodo terkuak setelah Komisi Pemberantasan Korupsi menggeledah kantor perusahaan properti raksasa itu dan menemukan dokumen proyek pada 1 April lalu. Komisi Pemberantasan Korupsi juga menemukan 12 proyek lain baik yang sedang dikerjakan maupun sudah selesai, seperti pembangunan rumah susun sewa sederhana di Daan Mogot, Jakarta Barat.

Koran Tempo kemudian mengutip keterangan penyidik KPK tentang pengakuan Presiden Direktur Agung Podomoro Land Ariesman Widjaja yang membenarkan temuan itu. “Benar, dokumen tersebut merupakan kewajiban tambahan yang diminta pemerintah Jakarta atau Gubernur Basuki Tjahaja Purnama,” kata Ariesman, tersangka suap reklamasi.

Menurut Ariesman, masih kata Koran Tempo, biaya proyek Podomoro permintaan pemerintah itu akan diganti melalui pemotongan kontribusi tambahan pulau reklamasi. Padahal, DPRD Jakarta batal mengesahkan peraturan tersebut setelah KPK menangkap Mohamad Sanusi, yang menerima suap dari Ariesman yang meminta kontribusi diturunkan dari 15 menjadi 5 persen.

Selain Podomoro, kata Ariesman, pemegang izin reklamasi 17 pulau di Teluk Jakarta mengerjakan proyek pemerintah seperti yang dikerjakan Podomoro. “Tapi saya tidak mengetahui di mana dan pekerjaannya apa saja,” ujarnya.

Ahok menganggap berita itu jahat. Apalagi kemudian muncul foto daftar kontribusi tambahan yang kemudian dikonfirmasikan kepada Ahok. Ahok  pun mengaku  tidak pernah ada kesepakatan antara dirinya dan APL. “Ini aku enggak tahu kertas ini (daftar kontribusi tambahan) benar atau enggak. Tetapi, judul (berita) itu jahat banget. Jadi, ini catatan Podomoro, ini jahat banget,” ujarnya kepada para wartawan yang mencegatnya, di Balai Kota, Jumat (13/5).

“Aku mau lapor polisi nih, ini berarti lu fitnah gua lho. Dapat dari mana tulisan ini? Aku mau tahu kertas aslinya dari mana. Kalau Tempo bilang ini sumber dari KPK, berarti KPK harus dicari siapa yang bocorin. Saya akan cari. Kalau Podomoro yang tulis seperti ini, saya akan gugat dia. Ini mesti jelas. Ini gila tulis gini. Betul, jahat banget,” jelasnya.

Di balik berita ini, ada juga cerita yang menarik di kalangan wartawan. Sebab, gara-gara berita Koran Tempo itu, beberapa wartawan cetak yang biasa mangkal di Balaikota dan KPK didamprat para redaktur mereka, karena tidak mendapatkan dokumen maupun keterangan penyidik KPK maupun Ahok tentang persoalan barter ini.

Kompas kemudian mengambil angle berita tentang persetujuan Presiden Jokowi terhadap Syarat Kontribusi tambahan sebesar 15 persen dari para pengembang. Padahal, jika didalami, berita itu sebenarnya cukup membahayakan Presiden Jokowi. Apalagi jika digabung dengan angle berita yang diambil detik.com tentang Perjanjian Preman Ahok dengan para Taipan pengembang proyek reklamasi….

Ada juga cerita lain tentang apa yang sedang terjadi di KPK. Menurut seorang kawan, saat ini tengah terjadi perbedaan sikap antara para pimpinan KPK dengan kalangan Direktur dan penyidik KPK. Jika para pimpinan KPK memilih berhati-hati dalam menetapkan tersangka, sehingga terkesan melindungi seseorang, para Direktur dan penyidik KPK justru bersikap keras. Mereka konon ingin segera menyeret tersangka baru, yang sudah semakin jelas sepak terjangnya.

Sori tambahan dikit… Saya jadi ingat, beberapa bulan lalu seorang tokoh politik bilang bahwa karena pertentangan mengenai pencalonan Gubernur DKI Jakarta begitu dahsyat di tengah masyarakat, maka sedang diupayakan untuk mencari tombol reset untuk memperbaikinya. Inikah tombol reset itu…

Nah…

===

Apa komentar anda?

===

http://www.republika.co.id/berita/nasional/hukum/16/05/13/o73v8k365-ahok-akan-gugat-tempo-dan-podomoro

http://megapolitan.kompas.com/read/2016/05/13/11372371/Disebut.Terima.Rp.392.Miliar.Ahok.Berencana.Gugat.Agung.Podomoro


Celoteh : Hanibal Wijayanta

Subscribe to receive free email updates: